"Kehidupan di dunia ini tidak lain kecuali permainan dan hiburan, sedangkan kampung akhirat itulah kehidupan yang sebenar, andai mereka mengetahui" [Al- Ankabut: 64]
Sunday, April 17, 2011
Ujian Merupakan Satu Nikmat
Saturday, April 16, 2011
KUBURAN MENUNGGU KITA
Pernahkah kita melihat kuburan..?
Pernahkah kita melihat gelapnya kuburan..?
Pernahkah kita melihat sempit dan dalamnya liang lahat..?
Pernahkah kita membayangkan kengerian dan kedahsyatan alam kubur..?
Sadarkah kita bahwa kuburan itu dipersiapkan untuk kita dan
untuk orang-orang selain kita...?
Bukankah silih berganti kita melihat teman-teman..orang-orang tercinta dan keluarga dekat kita diusung dari dunia fana ini ke kuburan...?
Dari buaian dunia yang terang benderang ke kegelapan liang lahat...
Dari keceriaan bermain dengan keluarga dan anak-anak kepada kekerasan tanah dan ulat-ulat ...
Dari kenikmatan makanan dan minuman kepada timbunan debu dan tanah...
Dari kelembutan pergaulan di tengah-tengah sahabat kepada kesendirian yang mengerikan...
Dari kasur yang empuk kepada tempat pergulatan amal yang sangat menakutkan....
dalam kubur..liang yang sangat sempit...tak lagi berbeda antara pelayan dan majikan..kaya dan miskin..semuanya sama...
Nikmat kemewahan dan kelazatan dunia pasti berakhir dengan kematian... kematian tak mengenal umur dan waktu...
Rasulullah saw bersabda:
"Kuburan adalah awal kehidupan akhirat...Jika seseorang selamat
darinya..maka setelahnya menjadi lebih mudah....Dan jika ia tidak
selamat daripadanya..maka setelahnya lebih mengerikan."
Umar bin Abdul Aziz rahimahullah suatu hari menasihati para
sahabatnya, diantaranya beliau berkata:
Jika kalian melalui kuburan..panggillah mereka jika engkau bisa memanggil... Lihatlah..betapa berdempetnya (sempit) rumah-rumah mereka...
Tanyakan pada orang-orang kaya dari mereka..masih tersisakah kekayaan mereka...?
Tanyakan pula pada orang-orang miskin dari mereka..masih tersisakah kemiskinan mereka..?
Tanyakan tentang lisan-lisan yang dengannya mereka berbicara.. sepasang mata yang mereka melihat indahnya pemandangan..?.
Tanyakan pula tentang kulit-kulit lembut dan wajah-wajah yang cantik jelita.. juga tubuh-tubuh yang halus mulus..apa yang diperbuat oleh ulat-ulat di balik kafan-kafan mereka...?
Lisan-lisan itu telah hancur...wajah-wajah yang cantik jelita itu telah dimakan ulat...anggota badan mereka akan terpisah berserakan...
Lalu di mana pelayan/sahabat mereka yang setia..?
di mana tumpukan harta dan sederetan jabatan mereka..?
Di mana rumah-rumah gedong mereka yang banyak dan menjulang
tinggi..?
Di mana kebun-kebun mereka yang rindang dan subur...?
Di mana pakaian-pakaian mereka yang indah-indah dan sangat mahal..?
Di mana kendaraan-kendaraan mewah mereka..?
Bukankah mereka kini berada di tempat yang sangat sunyi...?
Bukankah siang dan malam bagi mereka sama saja...?
Bukankah mereka berada dalam kegelapan...?
Mereka telah terputus dengan amal mereka...
Mereka telah berpisah dengan orang-orang yang mereka cintai..harta
dan segenap keluarganya....
WAHAI ORANG YANG TAK LAMA LAGI AKAN TINGGAL DIKUBURAN...!!!
Kenapa engkau terpedaya dengan dunia..?
lihatlah orang-orang yang telah pergi meninggalkan kita...Sungguh mereka sangat berharap untuk dapat kembali ke dunia.... Agar
dapat menghimpun amal sebanyak-banyaknya....
tapi..itu semua tak mungkin terjadi.. karena mereka telah dikuburkan.....
Friday, April 15, 2011
ILMU DAN KEYAKINAN KEPADA ALLAH SWT
Siapa kira si-Heryawan dapat meraih kesuksesannya perlahan demi perlahan. MEnghadapi ujian dengan sabar-sesabarnya. Hingga pada satu titik dimana orang disekitarnya yang begitu memperhatikannya mengatakan, “nih Heryawan dah harus dibantu.” Tapi lantaran ilmunya yang melebihi teman-temannya ia berpendapat bahwa meminta sepantasnya hanya Allah SWT. Yang Maha Pemberi Rizki sang Maha Pemberi unuk hambanya yang meminta hanya kepada-Nya. Gawatnya, kalau teman-teman sekitarnya dah bilang harus ditolong nih manusia yang namanya Heryawan, tetapi yang bikin gemes si Heryawan masih aja suka infaq. Dia patokin minimal sehari 2000 untuk infaq. “Gile bener nih orang, untuk makan aja Cuma kuat untuk satu hari, masih aja infaq,” kata Joni pas di warung kopi saat kongkow.
Tahajud, Subuh berjamaah di shof terdepan, Dhuha 4 rakaat, Zuhur berjamaah di shof terdepan, Ashar berjamaah juga sampai Isya gak pernah ditinggalin. Terus heryawan patokin waktu infaq terbaik adalah setelah Dhuha, kalau lagi dirumah dia jalan kaki muterin komplek nyari tukang minta-minta untuk diberikan jatah infaq setiap harinya 2000,-. Memang semenjak di pecat 3 bulan lalu si Heryawan sabar banget menunggu panggilan kerja. Kalau teman-teman lainnya pada demo minta pesangon sama bosnya yang entah dah lari kemana, si Heryawan mah malah tambah cinta sama Allah SWT. “Cuma Allah saja tempat meminta”, katanya pas diajak demo sama teman-temannya. “iiiiih sebel gak sih loh sama nih orang,” si Slamet ngedumel sambil bergabung sama teman-temannya untuk Demo.
Sementara teman-temannya menghabiskan waktu selama tiga bulan untuk mendemo uang pesangon. Dan gak ada habisnya tuh urusan. Si Heryawan terus istiqomah, walaupun keadannya mengenaskan tetap saja dia kekeh Cuma Allah saja tempat meminta.
Di hari ke-90 dia istiqomah sama komitmennya. Ternyata sudah sebulan ada orang di balik mobil sedan mewah hitam melihat gerak-gerik si Heryawan. Orang di balik mobil itu gak habis piker ada pemuda yang bisa kayak begitu. Suatu hari di hari ke-30, orang dibalik mobil itu membuat scenario untuk menguji nih pemuda. Tanpa di duga Heryawan di berikan tas sama lelaki berkacamata hitam baju hitam, celana hitam, sepatu hitam, kulit hitam, syukur giginya gak hitam kata Heryawan dalam hatinya. “Nih untuk keperluan kamu sehari-hari”, kata orang serba hitam yang kemudian hilang di ujung jalan.
“Apaan nih tas isinya, kok tuh orang kasih tas gitu aja ya. Jangan-jangan Ular kobra lagi eh salah NArkoba”, kata Heryawan. KArena penasaran dia langsung buka tuh Tas. Dan MasyaAllah tuh tas tahu gak apa isinya. Merah semua, bro. ya Merah Semua Sist. UAng gepokan seratusan ribuan semuanya. Bisa kebayang kan berapa isinya. Uang gepokan, seratusan ribu, di tas hitam isi 50 liter. Hatinya langsung dag-dig dug si Heryawan. Innalillahi Wa innalillahi Rojiun. Apa ini rezeki aye ya. Ah masa sih. Aye gak kerja kok tapi dapet uang sebanyak ini. Kebayang juga di benak Heryawan apakah karena aye rajin infaq ya. Gak-gak ini bukan han aye, katanya. Ini pasti cobaan dari Allah SWT.
Dalam hatinya bergulat dengan nafsunya. Lantaran ilmunya mumpuni nih Heryawan akhirnya memutuskan untuk menginfaqkan tuh uang ke Masjid yang lagi dibangun. Alhamdulillah lega, HEryawan bersyukur tak di beratkan dengan urusan uang yang banyak tadi.
Tanpa disadari si Heryawan di ikuti orang didalam mobil sedan mewah yang member Tas tadi. Matanya berbinar tambah terang menerangi wajahnya. Dan reflek bibirnya berucap kepada ayahnya yang diajak untuk menyaksikan scenario putrinya itu. Bibirnya benar-benar tergerak meminta, “Abi, ana mau menikah dengan pemuda itu,” air mata mengalir sebentar kemudian.
TAk lama si Heryawan telah memimpin Lima perusahaan jual beli dinar emas di 5 negara. Bersama istrinya yang cantik dan sholeh. Dan tak ada yang berubah dari Heryawan karena saban selasai Dhuha yang kini bertambah menjadi 12 rakaat ia berjalan kaki mencari tempat untuk infaq. Dan tak tanggung-tanggung ia berkomitmen berinfaq 1 juta per Harinya. Subhanallah. LAntaran ilmu si Heryawan menjadi begitu komitmen. Tak pernah meminta bagaimanapun kondisinya kecuali minta sama Sang Maha Pemberi Allah SWT.
Thursday, April 14, 2011
KEISTIMEWAAN AL QUR'AN
Salah satu keistimewaan Ummat Islam dibandingkan ummat lainnya ialah jaminan Allah terhadap Kitabullah Al-Quranul Karim. Al-Qur’an merupakan satu-satunya Kitab Allah yang dipastikan akan terpelihara keasliannya semenjak pertama kali diwahyukan kepada Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam hingga tibanya hari Kiamat. Hal ini tidak ditemukan di dalam Kitab Allah lainnya yang telah diwahyukan kepada para Nabi terdahulu. Baik itu Kitabullah Taurat yang di wahyukan kepada Nabiyullah Musa ‘alaihis salam maupun Kitabullah Injil yang diwahyukan kepada Nabiyullah Isa ‘alaihis salam. Tidak ada satupun ayat di dalam Taurat (mereka menyebutnya Perjanjian Lama) maupun Injil (mereka menyebutnya Perjanjian Baru) yang menyatakan bahwa otentitas kedua kitab tersebut bakal terjamin. Itulah sebabnya dewasa ini ditemukan berbagai versi Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Antara satu dengan lainnya terdapat banyak sekali perbedaan. Tidak seragam.
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS Al-Hijr [15] : 9)
Namun keistimewaan Al-Qur’an bukan hanya terletak pada jaminan keterpeliharaan keasliannya semata. Al-Qur’an diwahyukan Allah kepada Nabi Akhir Zaman agar menjadi petunjuk bagi segenap ummat manusia, tanpa kecuali. Oleh karenanya Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam juga ditegaskan Allah diutus untuk segenap ummat manusia, bahkan menjadi rahmat bagi segenap alam semesta.
Al-Qur’an bukan kitab khusus untuk menjadi petunjuk bagi ummat Islam semata. Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam tidak diutus untuk menjadi Nabi bagi bangsa Arab semata.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia. (QS. Al-Baqarah [2] : 185)
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا كَافَّةً لِلنَّاسِ
Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya. (QS. Saba [34] : 28)
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. Al-Anbiya [21] : 107)
Sedangkan Nabi Musa ‘alaihis salam maupun Nabi Isa ‘alaihis salam diutus hanya khusus bagi sekelompok manusia yaitu Bani Israel alias ketuunan Nabi Ya’qub ‘alaihis salam yang nama lainnya ialah Nabi Israel ‘alaihis salam. Kitab Taurat dan Injil dengan demikian juga dimaksudkan untuk menjadi petunjuk sebatas bagi Bani Israel, bukan untuk segenap ummat manusia.
وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ
Dan Kami berikan kepada Musa ‘alaihis salam kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israel. (QS Al-Isra [17] : 2)
وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالإنْجِيلَ وَرَسُولا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ
Dan Allah akan mengajarkan kepadanya (Isa ‘alaihis salam) Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israel. (QS. Ali-Imran [3] : 49)
Inilah keistimewaan peranan Al-Qur’an sekaligus peranan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam yang sungguh sangat berbeda dengan peranan Taurat maupun Injil atau peranan Nabi Musa ‘alaihis salam maupun Nabi Isa ‘alaihis salam. Al-Qur’an dimaksudkan Allah untuk menjadi petunjuk bagi segenap manusia, apapun bangsa, suku, warna kulit, bahasa bahkan agamanya. Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam diutus Allah agar menjadi Nabi bagi segenap manusia di muka bumi apapun latar belakangnya.
Sedangkan Taurat dan Injil maupun Nabi Musa ‘alaihis salam dan Nabi Isa ‘alaihis salam diwahyukan dan diutus Allah untuk menjadi petunjuk dan Nabi bagi Bani Israel semata. Allah tidak pernah mengamanatkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam maupun Nabi Isa ‘alaihis salam agar mendakwahkan Taurat atau Injil kepada kalangan di luar Bani Israel. Sedangkan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam jelas diamanatkan Allah agar mendakwahkan nilai-nilai Al-Qur’an kepada segenap ummat manusia, baik dia itu bangsa Arab atau bukan, muslim ataupun bukan. Dan itu juga berarti bahwa kita –ummat Islam– selaku pengikutnya berkewajiban mempromosikan Al-Qur’an agar menjadi petunjuk bagi segenap ummat manusia, baik mereka beriman kepadanya maupun tidak.
Permasalahan ini sangat penting mengingat bahwa dewasa ini kita sedang menjalani era penuh fitnah dimana upaya menyelewengkan makna seperti di atas luar biasa dilakukan oleh kaum kuffar dibantu kaum munafiqun. Salah satu fitnah yang sengaja disebarkan ialah virus faham pluralisme. Awalnya pluralisme cuma menawarkan gagasan “keharusan menghormati segenap penganut agama, apapun agamanya”. Sampai sebatas ini, Islam tidak mempermasalahkan, bahkan sesuai dengan ajaran Islam. Namun kaum pengusung pluralisme tidak berhenti hingga di situ. Mereka selanjutnya mempropagandakan bahwa “semua agama sama, semua agama baik, bahkan semua agama benar.” Inilah racunnya. Ketika seorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat menelan begitu saja logika berfikir pluralisme hingga setuju dengan gagasan semua agama sama baiknya, sama benarnya, maka di situlah masalah muncul. Sebab jelas berdasarkan uraian di atas bahwa tidaklah sama antara satu agama dengan agama lainnya.
Bahkan antara tiga agama terbesar dunia dewasa ini –Islam, Kristen dan Yahudi– kedudukan dan peranannya tidaklah sama dan tidaklah setara.
Tidak saja kitab suci kaum Yahudi dan Nasrani dewasa ini telah mengalami distorsi yang begitu hebat, kemudian ditambah lagi bahwa Allah Rabb semesta alam mengamanatkan kepada Ahli Taurat maupun Ahli Injil untuk menjadikan kedua kitab tersebut petunjuk sebatas bagi kalangan Bani Israel, bukan untuk segenap ummat manusia. Sementara itu kitab suci Al-Qur’an tidak saja terjamin keasliannya sebagaimana pertama kali diwahyukan kepada Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam lima belas abad yang lalu, melainkan ia juga diperuntukkan bagi segenap ummat manusia di muka bumi hingga tibanya hari Kiamat.
Namun realitas dunia saat ini justeru kita menyaksikan bahwa ummat Islam alias Ahli Al-Qur’an justeru menjadi ummat yang mengekor kepada tradisi/budaya/kebiasaan kaum Yahudi dan Nasrani yang notabene dewasa ini merupakan pemimpin dunia modern. Tidak bisa kita pungkiri bahwa dunia dewasa ini dipimpin oleh kaum Barat yang terdiri dari Judeo-Christian Civilization (Peradaban Yahudi-Nasrani). Pantaslah bilamana dunia modern dewasa ini berada dalam perjalanan yang tidak jelas menuju masa depannya. Sebab yang memimpin dunia modern adalah fihak yang tidak memiliki wahyu yang masih asli bersumber dari Allah Rabb semesta alam, bahkan kalaupun mereka bisa menghadirkan kitab suci mereka yang asli namun Allah tidak pernah mengamanatkan kedua kitab suci mereka itu untuk menjadi petunjuk bagi segenap ummat manusia. Kedua kitab suci tersebut –Taurat dan Injil– hanya diperuntukkan bagi sekelompok kecil ummat manusia, yakni Bani Israel.
Sebaliknya, karena kebodohan dan kelemahan mental, ummat Islam justeru merelakan dirinya mengekor kepada berbagai konsep yang ditawarkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani pemimpin dunia modern. Sebagian besar Ahli Al-Qur’an dewasa ini mengidap penyakit inferiority complex alias mental pecundang sehingga mereka tidak keberatan mengekor kepada fihak Barat yang sesungguhnya berada dalam kesesatan.
Padahal justeru ummat Islam-lah satu-satunya kelompok manusia di muka bumi yang masih memiliki kejelasan kitab suci yang bersumber dari Allah Rabb semesta alam. Bahkan Allah telah melegalisir kitab suci tersebut agar diperlakukan sebagai petunjuk bagi segenap ummat manusia, bilamana mereka ingin selamat. Artinya, sesungguhnya hanya ummat Islam-lah satu-satunya fihak yang layak memimpin dan membimbing ummat manusia di era modern ini menuju kehidupan sejahtera secara hakiki dan abadi. Tetapi sayang seribu kali sayang, justeru tidak sedikit muslim dewasa ini yang bilamana diajak untuk diberlakukannya syariat Islam alias hukum Allah alias hukum Al-Qur’an, malah menolaknya dengan alasan bahwa kita tidak sepantasnya memaksakan agama Islam kepada orang-orang non-muslim. Laa haula wa laa quwwata illa billah...!
Sungguh tepatlah penggambaran Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam lima belas abad yang lalu mengenai kondisi ummat Islam di era penuh fitnah dewasa ini, sebagai berikut:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti tradisi/kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak-pun kalian pasti akan mengikuti mereka." Kami bertanya; "Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?" Beliau menjawab: "Siapa lagi kalau bukan mereka?" (HR. Muslim No. 4822)
Wednesday, April 13, 2011
FENOMENA MENAKJUBKAN... MASJID JIN, SAKSI KEIMANAN SEKELOMPOK JIN
Sekelompok Jin menyatakan keislamannya yang diterangkan dalam Alquran surah Jin ayat 1-2. "Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin mendengarkan Alquran. Lalu, mereka berkata:
"Sesungguhnya, kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar. Karena itu, kami memercayainya dan kami tidak akan mempersekutukan Allah SWT dengan siapa pun juga."
Peristiwa ini terjadi saat Rasul SAW bersama para sahabat sedang melaksanakan shalat Subuh.
Ketika itu, Rasul SAW membaca surah Ar-Rahman [55] ayat 1-78. Dalam surah Ar-Rahman ini terdapat beberapa ayat yang berbunyi, "Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" Ketika ayat ini dibacakan, para jin yang hadir saat itu langsung menjawabnya dengan kalimat, "Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami tidak mendustakan nikmat-Mu sedikit pun. Segala puji hanya bagi-Mu yang telah memberikan nikmat lahir dan batin kepada kami."
Ibnu Mas'ud menyatakan bahwa ia ikut menyaksikan malam turunnya ayat Jin ini. Rasulullah SAW bersabda, "Aku didatangi juru dakwah dari kalangan jin. Lalu, kami pergi bersamanya, dan aku bacakan Alquran kepada mereka."
Peristiwa ini terjadi di sebuah masjid
Masjid ini terletak di kampung Ma'la, tak jauh dari pekuburan kaum Muslim di Kota Makkah. Dan kini, masjid itu dinamakan dengan Masjid al-Jin atau Masjid al-Bai'ah. Sebab, di tempat inilah para jin berbaiat atau menyatakan keislaman mereka kepada Rasulullah SAW untuk beriman kepada Allah SWT dan Kitab-Nya.
Awal Mula Cerita
Masjid ini menjadi monumen terpenting antara Rasulullah SAW dan para jin. Konon pada saat itu, para Jin berencana menuju Tihamah. Namun, mereka mendengar bacaan Alquran. Mereka sangat takjub mendengarnya, dan kemudian berdialog dengan Rasulullah SAW, lalu menyatakan keimanannya. Mereka kemudian menyampaikan hal itu kepada kaum jin. Penyampaian para jin yang berbaiat dengan Rasul SAW itu diabadikan dalam Alquran surah Al-Ahqaf [46]: 29-32.
Dalam Asbab an-Nuzul karya Jalaluddin as-Suyuthi disebutkan sebab-sebab diturunkannya surah Al-Ahqaf ayat 29-32. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Mas'ud. Ketika Rasulullah SAW sedang membaca ayat-ayat Alquran, ada beberapa jin (sejumlah riwayat menyebutkan jumlahnya ada sembilan jin dan sebagian lain menyebutkan tujuh jin) yang turut mendengarkan bacaan Alquran dari Rasulullah SAW. Kemudian, salah satu dari jin itu mengingatkan teman-temannya, "Diamlah, perhatikan bacaannya." Sesudah itu mereka kembali kepada kaumnya untuk mengingatkan mereka pada jalan yang benar.
Dalam kitab Ad-Durur al-Manshur disebutkan bahwa jumlah jin yang datang kepada Rasulullah SAW itu sebanyak tujuh jin. Sementara itu, menurut Ibnu Mas'ud sebagaimana dikutip Syekh Abdul Mun'im Ibrahim, dalam kitabnya Ma Qabla Khalqi Adam dan telah diterjemahkan dengan judul Adakah Makhluk Sebelum Adam? Menyingkap Misteri Awal Kehidupan, jumlah mereka sebanyak sembilan dan salah satu dari jin itu bernama Zauba'ah.
Responsif Dalam kitab Fath al-Bari bi syarh Shahih al-Bukhari bab Dzikru al-Jin disebutkan, pemimpin para jin itu bernama Wirdan. Para jin itu berasal dari Nasibain, yaitu sebuah daerah yang terletak di perbatasan antara Negara Irak dan Suriah, yaitu di dekat Mosul.
Menurut Abdullah ibnu Umar, ayat Alquran yang dibacakan Rasulullah SAW ketika itu adalah surah Ar-Rahman. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada bagiku selain golongan jin yang lebih baik dalam merespons surah Ar-Rahman daripada kalian."
Para sahabat bertanya, "Bagaimana bisa, ya Rasul?" Rasulullah menjawab, "Ketika aku membaca ayat `Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan,' para jin berkata, "Wahai Tuhan kami, tidak ada sedikit pun dari nikmat-Mu yang kami dustakan."
Dalam hadis ini, Rasulullah SAW mengajarkan kepada para sahabatnya mengenai bagaimana mereka (golongan jin) menafakuri dan menadaburi (menelaah dan mencerna) ayat-ayat Allah SWT. Ketika ayat Alquran menanyakan sesuatu, para Jin itu dengan cepat merespons pertanyaan Allah.
Sementara itu, para sahabat masih terdiam dan terpaku mendengarkan ayat-ayat tersebut. Para jin lebih respek terhadap ayat yang banyak menggunakan kalimat istifham (pertanyaan) daripada manusia. Namun, diamnya para sahabat dalam merespons ayat Alquran ini masih lebih baik dibandingkan dengan orang - orang kafir Quraisy yang enggan mengimani dan meyakini kebenaran Alquran dan ajaran Islam.
Teguran Menurut Syauqi Abu Khalil dalam Atlas Al-Qur'an, surah Jin dan Al-Ahqaf itu memberikan teguran kepada orang orang kafir Quraisy dan Arab di Makkah yang terlambat merespons keimanan.
Mengherankan, jin yang notabene bukan berasal dari golongan manusia lebih cepat dalam menerima dan merespons dakwah yang disampaikan Rasulullah SAW daripada..........ORANG KAFIR.