Sunday, April 10, 2011

Insan Bernama Kekasih


Debar hatiku membisik rindu
Ingin aku jadikan kau gadis idaman
Adakah mungkin kau kumiliki
Untuk aku katakan insan bernama kekasih

Keayuan yang tergambar lukisan nur iman
Bertemankan keindahan santun perkataan
Bagai putih salju mendinginkan hangat perasaan
Terukir segala resah di jiwa

Ku ucapkan salam ucapan mesra
dan merisik khabar berita
Masihkah ada peluang
Untukku melafaz kesyukuran

Umpama rembulan jatuh ke riba
Mendengar khabaran dariNya
Padaku kau memendam rasa

PadaMu oh tuhan
Ku memohon keredhaan
Nur Kasih yang ku damba
Kekal hingga ke syurga

Hanya satu yang ku pinta kebaikan dariNya
Moga dipeliharakan tulus cinta kita
Agar kukuh ikatan yang murni bahgia selamanya
Dengan lafaz pernikahan yang mulia

Datanglah kasihku dalam dirimu
Menghiasi ruang hatimu
Akan ku sambutnya dengan
Sujud penuh kesyukuran

Ku harap jalinan kan berpanjangan
Selagi kasih yang terbina
Kerana cinta kepadaNya

Kau kusayangi teman sejati
Dikaulah sesungguhnya
Insan bernama Kekasih


Saturday, April 9, 2011

MERAYU ALLAH MELALUI TASBIH, TAHMID, TAHLIL DAN TAKBIR


Allah sangat menyukai ucapan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir yang keluar dari bibir hamba-hamba-Nya. Tasbih adalah ekspresi pengkudusan yang mengandung penafian semua kejelekan yang tidak mungkin ada pada Allah yang tidak sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya. Tahmid merupakan bentuk pujian yang sempurna kepada Allah. Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik doa adalah Alhamdulillah” (HR. Tirmiddzi). Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda, “Alhamdulillah memenuhi Mizan, dan Subhanallah serta al-hamdulillah keduanya memenuhi apa yang ada diantara langit dan bumi” (HR. Muslim).

Sementara “Laa Ilaaha Illa Allah” adalah sebuah deklarasi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah. Dia adalah kalimat tauhid yang merupakan sebaik-baik dzikir kepada Allah. Kalimat ini merupakan bentuk penafian sifat-sifat uluhiyah dari makhluk dan penetapannya atas Allah karena memang Dialah Yang berhak untuk itu semua, Dialah yang pantas untuk menyandangnya, Dialah yang memiliki itu semua. Kewajiban kita hendaknya senantiasa menggemuruhkan kalimat-kalimat agung itu dalam detak jantung kita, mengkristalkannya dalam relung hati kita, melantunkannya lewat bibir-bibir kita, memekarkannya dalam perilaku kita semua dan menancapkannya dalam sujud-sujud kita. Rasulullah pernah bersabda, “Ucapan yang paling Allah sukai itu adalah empat : Subhanallah, al-Hamdulillah, Laa Ilaaha Illa Allah, Allahu Akbar. Tidak ada bahaya darimanapun kamu mulai” (HR. Muslim). Dalam sabdanya yang lain Rasulullah beliau mengatakan, “Bagiku mengucapakan Subhanallah, al-Hamdulillah, Laa Ilaaha Illa Allah, Allahu Akbar lebih aku sukai daripada apa yang disinari mentari”.

Tak ada aktivitas yang akan menenteramkan hati dan melembutkan jiwa selain senantiasa ingat dan berdzikir kepada Allah. Tak ada aktivitas yang melegakan jiwa dan menyejukkan nurani selain dzikir kepada Allah. Karena itulah Allah menyeru kepada kita agar kita senantiasa berdzikir pada-Nya. Karena itu, “Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) –Ku”.(Al-Baqarah : 152).

Dzikir kepada Allah adalah surga Allah di dunia. Dia indah dan penuh pesona, menakjubkan dan menentramkan. Di dalamnya ada bunga-bunga wangi yang bisa dihirup jiwa. Maka barang siapa yang tidak pernah menginjakkan kakinya di surga Allah di dunia dia tidak akan pernah menginjakkan kakinya di surga Allah di akhirat. Dzikir adalah penolong yang melenyapkan kelelahan dan keletihan jiwa dan kehampaan nurani. Dzikir adalah jalan pintas untuk meraih kebahagiaan dan merengkuh kemenangan. Dzikir adalah balsem yang senantiasa memberikan kehangatan ruhani dan sekaligus memberikan kesembuhan jiwa. Dalam dzikir jiwa menjadi terasa dekat dengan Sang Mahakasih, merasa teduh dalam naungan cinta-Nya, hangat dalam dekapan kasih-Nya. Para ahli dzikir akan merasa getaran ilahiyah yang mengalir dalam seluruh organ tubuhnya. Dzikir menyingkirkan awan ketakutan menepiskan kegundahan dan menghadirkan kebahagiaan dan rasa damai. Problema hidup akan ringan terasa. Guncangan jiwa akan luluh sirna.

Dzikir adalah penerang. Dzikir adalah penyadar dan senjata ampuh pemusnah kesuntukan pikiran, pelenyap tumpukan duka lara. Orang yang berdzikir kepada Allah akan senantiasa bersinar jiwanya, bercahaya tingkah lakunya. Ketenangan batin tersimpan dalam gema dzikir yang bertalu-talu, dalam denting tahmid yang mendayu-dayu. Dalam kalimat tauhid yang menggebu dan dalam tasbih yang bergelora menghangatkan jiwa. Dzikir adalah ibadah jiwa dan lidah yang melintasi semua zaman. Ia harus hadir dalam detik-menit-jam-hari-minggu-bulan-tahun hingga kematian menjemput kita. Berdzikirlah dalam keadaan apa saja : berdiri, duduk ataupun terbaring. Kita wajib mengingat-Nya baik saat berada di daratan, di lautan, di padang pasir, di pasar-pasar, di mall-mall, di hotel-hotel bahkan di udara sekalipun. Dengan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, dalam gelap dan terang, di gunung-gunung dan lembah-lembah. Dzikir harus senantiasa bergema di seluruh nafas kehidupan kita. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya”.(Al-Ahzaab : 41). “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”.(Al-A’raaf : 205).

Dzikir itu makanan jiwa yang harus menjadi konsumsi rutin keseharian kita. Tanpanya jiwa kita akan melemah, semangat kita akan mengendur, cita-cita kita hanya menjadi cita pendek dan rendah. Ada kelezatan dalam dzikir yang tidak dimiliki oleh amal-amalnya lainnya. Cicipi dan rasakanlah. Dzikir adalah penawar racun orang berdosa, sahabat setia orang yang terputus, harta simpanan orang-orang yang bertawakkal, makanan orang-orang yang penuh yakin, hiasan orang-orang yang menyambungkan diri kepada Allah, prinsip orang-orang yang memiliki ma’rifat, hamparan orang-orang yang mendekat dan minuman segar orang-orang yang mencinta. Dzikir adalah energi hidup seorang muslim dan turbin yang menggerakkan jiwa mereka. Ibnu Taimiyah pernah mengatakan kepada muridnya, Ibnul Qayyim tentang dzikir ini : “Ini adalah makananku, jika aku tidak makan maka habislah kekuatanku”. Hasan Al-Bashri memberikan nasehat kepada kita : “Carilah kenikmatan itu dalam tiga perkara : Dalam salat, dalam dzikir, dalam membaca Al-Quran”.

Dzikir akan membuka kelapangan dada kita. Dalam dzikir terdapat makna-makan sabar dan tawakkal, terkandung makna ridha dan menyerah. Hanya dengan mengingat Allah jiwa kita menjadi jernih dan pikiran kita akan menjadi bersih. Dengan dzikir kepada Allah langkah ke depan menjadi pasti. “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”. (Ar-Ra’d : 28).

Kegelisahan yang melanda banyak orang di zaman tak lebih karena mereka telah melalaikan dzikir. Menyedikitkan tasbih, meminilisir tahmid dan mengerdilkan takbir dalam jejak rekam kehidupan mereka. Orang menjadi rakus karena dia tidak tamak untuk berdzikir. Seseorang menjadi berlumur dosa karena dia lupa bertasbih, dia menjadi angkuh karena kalimat tauhid yang dibacanya tidak lagi menggedor kesadaran dirinya bahwa dia hanyalah seorang hamba. Kejahatan para penguasa muncul karena mereka jarang bertabsih, pemelintiran agama hadir di kalangan ulama karena tasbih mereka mungkin mulai tak jujur. Tahmid mereka mulai mengendur. Kecurangan pemimpin bisa saja karena malam mereka tidak pernah berdenyut dengan tasbih dan tahmid, fajar mereka tidak pernah hidup dengan kalimat tauhid. Maka jadilah mata hati mereka semakin legam, jiwa mereka semakin gosong, pandangan nurani mereka menjadi pendek. Padahal ada waktu untuk merayu Allah di saat fajar akan menjelang, di saat manusia-manusia yang tidak bersemangat pada bergelimpangan pulas menikmati malam. Saat itu ucapan cinta kepada Sang Maha Pencinta harus diungkap. Karena cinta kita akan menarik cinta-Nya, rayuan kita akan membangkitkan cinta-Nya. Hidup ini harus kita maknai melalui tasbih, tahlil dan tahmid serta takbir kita yang tiada henti. Sampai mati.

Sudah menjadi kebiasaan, lagi-lagi kebiasaan orang-orang setelah melaksanakan sholat fardhu kelihatan terburu-buru meninggalkan tempat duduknya (apalagi di kota-kota besar, setelah sholat subuh langsung berdiri tanpa dzikir dan tafakur karena dikejar kendaraan atau waktu yang mengkhawirkan akan keadaan macet sehingga terlambat). Padahal dzikir dan tafakur setelah sholat adalah suatu kemuliaan dan sekaligus terapi psikologis bagi seorang muslim atau muslimat. Namun demikian, setidak-tidaknya dapat dilakukan dzikir dan tafakur pada waktu setelah sholat dzuhur untuk dijadikan terapi psikologis bagi seorang muslim atau muslimat. Banyak hadist-hadits yang menerangkan mengenai keutamaan dzikir dan tafakur usai sholat fardlu yang berguna bagi seorang muslim atau muslimat untuk terapi psikologis, menenangkan diri, mengevaluasi diri dan koreksi diri apa yang telah dikerjakan pada waktu sebelumnya.

Dzikir merupakan amalan yang dapat menghapus dosa, karena kita sadari bahwa dosa kita betapa banyak, yang kecil maupun yang besar, yang sengaja atau tidak sengaja. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bedzikirlah kepada Allah, dzikir sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya di pagi dan petang hari. Dialah yang memberi rahmat kepadamu, dan para malaikat-Nya memohon ampunan untukmu, supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan menuju cahaya terang, dan Dia mengasihi orang-orang beriman” (Al-Ahzab ayat 41-43). Ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman untuk senantiasa mengingat Allah dan mengucapkan tasbih sepanjang hari, baik pagi, siang maupun malam hari. Selain itu, agar senantiasa dekat kepada Allah, maka kita perlu berdzikir. Berdzikir, artinya mengingat. Dzikrullah itu tidak ada batas ruang dan waktu untuk mengingat-Nya.

Hendaknya berdzikir dilakukan dengan sungguh-sungguh, lisannya mengucapkan dan hatinya memahami, disertai ikhlas, maka Allah akan memberi rahmat. Adapun rahmat itu luar biasa nilainya, karena merupakan kasih sayang dari Allah. Jika Allah telah melimpahkan kasih sayang-Nya, maka dosa-dosa kita akan diampuni. Apalagi malaikat memohon kepada Allah agar dosa orang yang suka berdzikir dan bertasbih diampuni. Lalu orang tersebut mendapatkan cahaya terang, berupa terbukanya pintu hati untuk menerima hidayah. Hati yang gelap mana mungkin dapat menerima kebenaran, tetapi hati yang sudah terang, bersih dari dosa akan mudah menerima petunjuk dari Allah. Berdzikir dapat dilakukan kapan dan dimana saja. Setelah sholat, di tempat kerja juga kita harus berdzikir namun dilakukan dalam hati dan sebagainya. Setiap saat dan dimana saja, seorang muslim dituntut untuk selalu mengingat Allah. Mengingat Allah dilakukan dengan berdzikir, baik lisan maupun hati. Jika sudah terbiasa, maka hati tidak mudah dirasuki oleh syaitan yang selalu mendorong hawa nafsu untuk melakukan kejahatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang Islam, laki-laki dan perempuan, mukmin laki-laki dan perempuan, orang yang taat laki-laki dan perempuan, orang yang benar laki-laki dan perempuan, orang yang sabar laki-laki dan perempuan, orang yang khusyu’ laki-laki dan perempuan, orang yang puasa laki-laki dan perempuan, orang yang memelihara laki-laki dan perempuan, dan orang yang banyak berdzikir laki-laki dan perempuan, bagi mereka disediakan oleh Allah ampunan dan pahala yang besar” (Al-Ahzab ayat 35).

Menurut Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah mereka yang selalu berdzikir (ingat) kepada Allah, yaitu mereka yang selalu ingat kepada Allah di saat selesai sholat, pada pagi hari dan sore hari, ketika berbaring, bangun tidur, duduk dan berbaring. Jadi dzikir itu luas maknanya, jangan diartikan sebatas wirid saat selesai sholat. Rosulullah menyuruh agar kita selalu berdzikir, baik siang maupun malam hari, ketika hendak tidur, maupun setelah bangun tidur, karena syaitan selalu mendekati manusia, bahkan berada di tengkuk kepala kita.

Masalah dzikir meskipun Allah Subhanau wa Ta’ala telah membentangkan keutamaan-keutamaannya dan menjanjikan hadiah-Nya kebanyakan orang (hampir semuanya) tidak mau melakukan atau mengerjakannya. Padahal bila melakukan atau mengerjakan suatu dzikir itu mereka dapat merasa aman dan tenteram sebagaimana ditegaskan dalam Surat Ar-Ra'd ayat 28, "...maka hatipun akan merasa aman dan tenteram". Semestinya dengan ayat ini, kita tidak merasa canggung atau ragu-ragu. Penyebab tidak aman dan tenteram berawal dari berduka atau hatinya gelisah, dan terjadinya berduka atau gelisah itu karena ulah otak yang bertentangan dengan hati, sehingga hati tidak tenteram dan terganggu. Contohnya, jika anda berbuat dosa, dan anda tahu bahwa perbuatan yang dilakukan itu berdosa, tahu juga ancamanNya. Selanjutnya secara naluri pikiran anda akan membela diri dan menyangkal (mencari pembenaran) yang bertentangan dengan kata hati. Hati tetap mengakui hal yang sebenarnya dan hati selalu pada posisi yang benar sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surat An-Najm ayat 11, "Hati tiada berdusta apa yang dilihatnya". Lalu pertanyaannya, bagaimana cara mengatasi untuk mencapai ketenangan dan kedamaian bathin ini? Satu-satunya jalan adalah dengan cara menenangkan diri atau menetralisir anggota tubuh. Dalam ajaran Islam pelaksanaan penenangan diri dan penetralan anggota tubuh dengan “ berdzikir”, bermunajat memohon pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala (waktu yang baik adalah malam hari disaat sepi dan heningnya kehidupan).

Penentuan waktu berdzikir baik dalam al-Qur'an maupun hadist, bisa siang atau malam (tidak secara tepat ditentukan), hanya disebutkan dalam surat Al-Imran ayat 41, "Berdzikirlah kepada Allah pagi dan petang", selanjutnya dalam surat Ad-Dahr ayat 25, "Dan sebutlah nama Tuhanmu pagi dan petang. Dan di sebagian malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya di malam yang panjang". Coba tengok surat Qaf ayat 40, "Dan bertasbihlah kepada-Nya dalam sebagian malam dan di akhir sholat", surat Thaha ayat 130, "Bertasbihlah pada beberapa jam dari malam...".

Vicky Robbieyanto Dua dalam notenya yang berjudul “Dzikir lagi, Dzikir Lagi, again and again... Lebur Dalam Dzikrullah Semesta Raya-Nya” mengungkapkan, “Dan orang-orang yang berjihad dalam Kami, sungguh, akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah bersama para Al-Muhsiniin (mereka yang ihsan)” (Q.S. Al-Ankabut [29] : 69). Ayat ini bermakna, bahwa “Mereka yang berjuang melawan hawa nafsunya dan bertaubat sungguh-sungguh hanya demi Kami, pastilah akan Kami tuntun mereka pada jalan-jalan yang menyampaikan mereka pada kebenaran (Al-Haqq). Sesungguhnya tak seorang pun mampu berjuang melawan musuh yang ada di luar dirinya kecuali jika ia pun berjuang melawan musuh-musuh yang ada dalam dirinya. Maka, siapapun yang dianugerahi kemenangan atas apa-apa yang ada di dalam dirinya, ia pasti akan menang atas lawan-lawannya. Dan siapapun yang dikalahkan oleh apa-apa yang ada di dalam dirinya, musuh-musuhnya pun pasti akan mengalahkannya.” (Junaid Al-Baghdadi, 830-910 M). Dzikir mendekatkan kepada Dzat yang kepada-Nya ia berdzikir, sehingga orang yang berdzikir akan disertai oleh-Nya, sebagaimana diterangkan dalam al-Qur’an : “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala beserta orang-orang yang bertaqwa.”. Diterangkan dalam sebuah hadits qudsi : “Aku (Allah) menyertai hamba-Ku selama ia mengingat-Ku.” Penyertaan Allah yang dapat dicapai dengan berdzikir merupakan penyertaan yang tidak ada bandingnya. Hakikat penyertaan itu tidak mungkin dicatat dan tidak mungkin pula dapat dibicarakan. Kelezatannya benar-benar lezat dan arti kata yang sebenarnya, yang hanya dapat dirasakan oleh orang yang telah mencapainya. ‘Ya Allah, berikanlah kepadaku barang sedikit darinya.’

Berdasarkan nasehat seorang ulama besar Hujjatul Islam Imam Abu Hamid bin Muhammad Al-Ghazali dalam kitab “Ihya ‘Ulumuddin” dan “Bidayatul Hidayah” mengenai amalan-amalan dzikir, menganjurkan agar menggunakan setiap kesempatan teruatama setelah sholat ataupun pada malam hari supaya diisi dengan takarrub kepada Dzat Yang Maha Suci yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan memanjatkan puja dan puji atas Asma-Nya untuk kepentingan akherat. Semua doa atau dzikir yang diajarkan merupakan penukilan yang diajarkan Nabi Muhammad shalallaahu ‘alaihi wa sallam beserta sahabat-sahabatnya yang dianjurkan dibaca berulang-ulang agar mempengaruhi terhadap ketenangan jiwa. Bahwa yang sedikit dengan dilakukan secara terus menerus adalah lebih baik dan utama serta dapat mempengaruhi hati daripada membaca berulang-ulang yang jumlahnya banyak dan terputus-putus. Hujjatul Islam Imam Abu Hamid bin Muhammad Al-Ghazali mengatakan, “Yang sedikit terus menerus itu adalah umpama titik titik air yang menitik ke atas bumi secara terus menerus, lama kelamaan mendatangkan suatu lubang kecil pada bumi. Dan juga bila titik-titik air itu jatuh ke atas batu. Air banyak yang berpisah-pisah dalam waktu yang berjauhan, tidaklah menimbulkan bekas yang nyata. Maka sepuluh inilah kalimat-kalimat yang apabila diulang-ulang tiap-tiap kalimat sepuluh kali, maka jadilah seratus kali. Untuk itu, akan lebih afdhal daripada mengulang-ulangi suatu dzikir seratus kali, karena tiap-tiap kalimat tersebut mempunyai kelebihan atas kesadaran dan kelezatan. Dan bagi jiwa, dalam berpindah dari kalimat ke kalimat mempunyai ketenangan dan keamanan dari kemalasan”.

Dari sekian banyak amalan dzikir dan doa itu haruslah disertai dengan satu kekuatan, yaitu kekuatan “keyakinan”. Langkahkan kaki dan berpijak yang mantap penuh dengan keyakinan atau iman dan takwa serta menghiasi diri dengan desah dan nafas menyebut “Allah”. Dr. Davey John Schwartz dalam buku “Berfikir dan Berjiwa Besar” mengatakan bahwa “Tiada kepercayaan adalah kekuatan negative. Jika hati dan fikiran sangsi dan tidak percaya, maka akan muncul alas an-alasan yang membenarkan keraguan itu. Berfikir ragu, maka anda akan gagal dan berfikir tenang maka anda akan menang. Hal ini karena manusialah yang mempoduksi fikiran-fikirannya sendiri. Liputilah diri anda dengan kepercayaan yang besar, lancarkan offensive-success anda dengan kepercayaan yang jujur dan serius bahwa anda akan berhasil. Percayalah dalam kebesaran, dan tumbuhlah dalam kebesaran”. Adapun kalimat-kalimat yang sepuluh dan masing-masing dibaca atau diwiridkan sebanyak sepuluh kali adalah :

Pertama membaca “Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa hayyun laa yamuutu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qodiir” (Tiada Tuhan yang disembah, selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian. Ia Yang menghidupkan dan Yang mematikan. Dia yang hidup tiada Mati. Di tangan-Nya kebajikan. Dan Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu).

Kedua membaca “Subhaanallaahi wal hamdu lillaahi wa laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, wa laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhim” (Maha Suci Allah, segala pujian bagi-Nya, tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar dan tiada daya upaya, dan tiada kekuatan melainkan dengan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung)

Ketiga membaca “Subbuuhun qudduusun robbul malaa’ikati war ruuh” (Allah Maha Suci, Maha Quddus, Tuhan bagi segala Malaikat dan nyawa).

Keempat membaca “Subhaanallaahil ‘azhiimi wa bihamdih” (Maha Suci Allah Yang Maha Agung dan dengan pujian kepada-Nya).

Kelima membaca “Astaghfirullaahal ‘azhiim, al ladzii laa illaaha illaa huwal hayyul qoyyuumu wa as’aluhut taubah” (Aku minta ampun pada Allah Yang Maha Agung, yang tiada disembah selain Dia, Yang Hidup, Yang berdiri sendiri dan bermohon taubat kepada-Nya).

Keenam membaca “Allaahumma laa maani’a lima a’thoita, wa laa mu’thiya lima mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jadd” (Wahai Allah Tuhanku ! Tiada yang melarang akan apa yang Engkau berikan, tiada yang memberi akan apa yang Engkau larang. Dan tiada bermanfa’at orang yang mempunyai kesungguhan daripada Engkau oleh kesungguhannya).

Ketujuh membaca “Laa ilaaha illallaahul malikul haqqul mubiin” (Tiada yang disembah, selain Allah, yang menguasai yang Maha Benar, yang Maha menjelaskan segala sesuatu).

Kedelapan membaca “Bismillaahil ladzii laa yadhurru ma’asmihi syai’un fir ardhi wa laa fis samaa’I wa huwas samii’ul ‘aliim” (Dengan nama Allah yang tiada memberi kemelaratan sesuatu atas nama-Nya, di bumi dan di langit. Dan Dia Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui).

Kesembilan membaca “Allaahumma sholli ‘alaa Muhammad, ‘abdika wa nabiyyika wa rosuulikan nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa ‘aalihii wa shohbihii wa sallim” (Wahai Allah Tuhanku ! Anugerahilah rahmat dan kesejahteraan kepada Muhammad, hamba-Mu dan Rosul-Mu, Nabi yang ummi (tidak tahu tulis-baca), kepada kaum keluarganya dan sahabat-sahabatnya).

Kesepuluh membaca “A’uudzu billaahis samii’il ‘aliimi minasy syaithoonir rojiimi robbii. A’uudzu bika min hamazaatisy syayaathiini, wa a’uudzu bika robbii an yahdhuruun” (Aku berlindung dengan Allah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui daripada syaitan yang terkutuk. Wahai Tuhanku ! Aku berlindung dengan Engkau dari gangguan-gangguan syaitan. Dan aku berlindung dengan Engkau, wahai Tuhanku! Daripada syaitan-syaitan itu dating kepadaku).

Apabila anda merasakan atau melihat bahwa doa atau dzikir anda makbul (dikabulkan Allah), maka ucapkanlah “Alhamdu lillaahil ladzii bi’izzatihi wa jalaalihi tatimmush shoolihaat” (Segala puji bagi Allah, dimana dengan kemuliaan dan keagungan-Nya, sempurnalah segala yang baik-baik).

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar memohon doa, dan doa yang dimohonkan dilakukan dengan ikhlas. Syarat utama terkabulnya suatu doa adalah keikhlasan, keyakinan yang bulat dan kesucian hati serta kesucian hidup. Jangan hanya mulut saja yang "kumat-kamit" memohon doa, tapi hati dan jiwanya sama sekali tidak menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Doa itu erat sekali hubungannya dengan keyakinan, seperti hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad, "Apabila kamu meminta kapada Allah, berdoalah dalam keadaan bahwa kamu yakin sepenuhnya akan permohonan itu dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengabulkan doa seorang hamba yang hatinya membelakang dan goncang". Selain itu, faktor kesucian hidup memegang peranan yang penting, sebagaimana sebuah hadist yang menyatakan bahwa "Salah seorang sahabat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bernama Sa'ad bin Abi Waqash pernah bertanya kepada Beliau....apakah syarat-syaratnya supaya doa yang kumohonkan dikabulkan Allah Subhanahu wa Ta’ala?. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, "Makanlah dari harta yang halal, niscaya permohonanmu akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala".

Setiap doa haruslah disertai dengan ikhtiar dan perjuangan. Usaha-usaha yang bersifat fisik (perjuangan dan ikhtiar) harus dirangkaikan dengan kekuatan-kekuatan yang berbentuk doa itu. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri masih memerlukan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, apalagi kita sebagai manusia biasa.Lebih-lebih dalam kehidupan manusia ini, bagaimanapun kuatnya, pintarnya, kuasanya dan kelebihan-kelebihan lainnya, pada suatu ketika akan menemukan saat-saat kesulitan atau situasi yang tidak dapat diatasinya, dan sudah menjadi naluri manusia akan memohonkan doa meminta pertolongan kepada Kekuasaan yang lebih tinggi (Allah Subhanahu wa Ta’ala). Doa adalah ibadah dan saripati agama sekaligus senjata bagi seorang mukmin. Rosulullah menganjurkan dalam sebuah sabdanya agar kita berdoa dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menyangkut segala kebutuhan kita, termasuk diantaranya kebutuhan akan pasangan hidup dan kebutuhan akan pernikahan yang penuh berkah. “Hendaklah salah seorang dari kalian memohon kepada Rabb-nya menyangkut semua kebutuhanya sehingga ia pun hendaknya memohon menyangkut tali sandalnya apabila putus” (HR Thabrani dan Tirmidzi). Quraisy Syihab dalam bukunya “Wawasan Al-Qur’an tentang Doa dan Dzikir” mengungkapkan bahwa doa dan dzikir itu berhubungan erat. Doa merupakan bagian dari dzikir. Doa adalah permohonan. Dan, setiap dzikir, kendati dalam redaksinya tidak terdapat permohonan, tetapi kerendahan hati dan rasa memerlukan Allah yang selalu menghiasi ahli dzikir menjadikan dzikir mengandung doa.

Jika anda mengharap cinta Ilahi dan cinta orang-orang yang mencintai-Nya, anda dapat membaca doa, “Allaahumma innii as’aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wa amalal ladzi yubballighuni hubbaka. Allaahummaj’al hubbaka ahabba ilayya min nafsii wa ahlii wa minal ma’il baarid” (Ya Allah, aku memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan amal yang dapat menggapai cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah cintaku kepada-Mu melebihi cintaku kepada diriku sendiri, keluargaku, dan air yang dingin) (HR Tirmidzi). Jika anda mendambakan kasih sayang Ilahi dan anda ingin mencurahkan rasa kasih sayang anda kepada pasangan anda dan orang lain, bacalah dzikir, “Yaa rohmaanu yaa rohiimu” (Wahai Yang Maha Pengasih, Wahai Yang Maha Penyayang). Bila anda ingin terhindar dari kegelisahan dan kedukaan akibat belum bertemu dengan jodohnya atau sulit mendapatkan jodoh, padahal anda sudah berupaya maksimal dengan ikhtiar, anda dapat mengadu dan menyeru Allah dengan dzikir yang mengandung tahlil dan tasbih, “Laa ilaaha illa anta subhaanaka innii kuntu minzh-zhaalimiina” (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim). Bacaan ini adalah bacaan Nabi Yunus ketika beliau ditelan ikan dan berada di perut ikan dalam keadaan gelap gulita. “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap (dalam perut ikan, di dalam laut, dan di malam hari), “Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya akau adalah termasuk orang-orang yang zhalim” (Al-Anbiya ayat 87).


Friday, April 8, 2011

AGAMA DAN CAHAYA IMAN


Kesengsaraan hidup atau kekalahan dalam perjuangan atau kegagalan dalam melaksanakan sesuatu mempunyai pengaruh yang besar terhadap jiwa manusia. Semangatnya menjadi patah, hatinya lemah, tak obahnya seperti seekor ayam yang terkulai kepalanya karena kalah berkelahi. Pada saat-saat yang demikian, timbul rasa gelisah, duka cita dan di dalam jiwanya tumbuh satu perasaan yang memandang rendah terhadap dirinya sendiri. Hal ini merupakan satu penyakit yang dinamakan oleh ahli psikologi dengan “minder waardigheids complex”. Dalam menghadapi situasi seperti tersebut, ajaran agama Islam telah menggariskan pegangan sebagaimana firman-Nya, “Janganlah kamu bersifat rendah dan jangan pula berduka cita” (Ali Imran ayat 139). Orang yang betul-betul beriman dijamin oleh Allah akan tetap mencapai kemenangan atau kesuksesan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Demikianlah hari-hari kemenangan itu Kami gilirkan di antara manusia” (Ali Imran ayat 140). Artinya, silih berganti antara senang dengan susah, antara puas dengan kecewa, antara berhasil dengan kegagalan, antara menang dengan kalah dan seterusnya. Jadi setiap muslim haruslah mempunyai kepercayaan yang bulat terhadap sunnatullah, bahwa dalam alunan naik turunnya nafas perjuangan, akhirnya kebenaran dan keadilan akan tegak berdiri, kebatilan dan kezaliman akan hancur, sesuai firman-Nya, “Apabila kebenaran (al-haq) sudah menjelma, maka yang batil akan lenyap. Tiap-tiap yang batil itu sifatnya akan hancur” (Al-Isra’ ayat 81).

Rosulullah pernah bersabda, “Apa urusannya dengan dunia? Di dunia ini aku seperti pengembara yang berteduh di bawah pohon, lalu istirahat sebentar dan meninggalkannya”. Pernyataan Rosulullah ini merupakan teguran bagi umatnya agar tidak terlalu bermegah-megahan di dunia sehingga akherat ditinggalkan. Hidup di dunia ini adalah mempersiapkan diri untuk memasuki rumah abadi, syurga ataukah neraka. Mari gunakan kesempatan hidup yang sebentar ini untuk membangun syurga dan bukan sebaliknya menggali neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan fasilitas yang lengkap dan kita tinggal memilihnya, apakah nafsu yang dituuruti ataukah tawaran syurga dari Allah? Melaksanakan atau menunaikan sholat lima waktu menjanjikan berbagai kenikmatan yang tidak mungkin dapat dijangkau di dunia ini dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kekuatan untuk melawan hawa nafsu ketika menyeru pada kebatilan. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan pernah mengingkari janji-Nya, dan Dia selalu menepati semua janji yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan rajin beribadah. Tidak ada keraguan dalam diri ini bahwa kehidupan akherat adalah kehidupan yang lebih baik. Kehidupan akherat adalah kehidupan yang sebenarnya, sedangkan kehidupan di dunia ini hanyalah sementara.

Awal yang baik dan akhir yang baik di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat menjadi pelindung diri dari siksa atas dosa (dosa kecil) yang telah dilakukannya dan menjadi kebiasaannya. Bahwa kebiasaan itu bermula dari bisikan, berubah menjadi fikiran dan timbul menjadi kehendak. Kehendak itulah membuat kebiasaan yang setiap waktu dilakukan. Kenapa ? Bila kebiasaan itu baik, maka teruskanlah dan perlu ditingkatkan, namun kebiasaan yang dilakukan itu adalah kebiasaan yang buruk, bagaimana ? Solusi untuk meninggalkan kebiasaan itu adalah pengendalian diri dengan mengupayakan hal-hal yang positif. Marilah bersama-sama membangun iman dan saling mengingatkan satu sama lain, berwasiat pada kebajikan dan amal sholeh serta mencegah perbuatan keji dan mungkar. Ajaklah keluarga dan saudara untuk menunaikan sholat shubuh tepat pada waktunya, karena ibadah ini selain merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan, juga sebagai kekuatan bagi rohani dan jasmani, dapat menghapus dosa dan membersihkan diri. Setiap manusia akan menemui mati. Tidak seorangpun yang dapat menahannya. Maut adalah satu batas antara hidup di dunia dengan hidup di alam barzah (kubur) sebelum alam akherat. Orang yang meninggal itu tidak dapat ditolong dengan mengeluarkan uang buat membacakan tahlil, tidak dapat ditolong dengan mengadakan tahlilan tiga hari, tujuh hari, empatpuluh hari, seratus hari, seribu hari dan seterusnya. Satu-satunya jembatan yang masih menghubungkan seseorang yang meninggal dunia adalah tiga perkara yaitu, "Apabila manusia meninggal dunia, maka putuslah hubungannya (dengan dunia), kecuali dengan tiga perkara. Pertama, sedekah jariyah (wakaf dan sejenisnya), kedua, ilmu yang masih memberikan manfaat, ketiga, anak yang shalih yang mendoakannya". (HR Muslim). Bagi seorang wanita, diantara kesalahan yang banyak terjadi yaitu wanita yang nifas terkadang telah bersih sebelum genap empat puluh hari, namun mereka tetap meninggalkan sholat dan puasanya, dengan anggapan tidak wajib atasnya kecuali setelah genap empat puluh hari. Yang benar adalah kapan saja ia mendapatkan dirinya telah bersih, maka ia harus segera menunaikan sholat dan puasanya, baik telah genap empat puluh hari ataupun tidak. Terkadang juga sebagian dari mereka meninggalkan sholat dan puasanya jika darah terus menerus keluar setelah empat puluh hari, dan hal ini merupakan kekeliruan. Padahal, wajib atasnya untuk sholat dan berpuasa, karena darah yang keluar itu adalah darah penyakit seperti darah istihadhah. Dikecualikan bahwa jika selesai nifas (empat puluh hari) bertepatan dengan datangnya bulan (haid), maka pada saat itu ia harus meninggalkan sholat dan puasa selama waktu menurut kebiasaannya, kemudian mandi dan sholat. Begitu juga diantara kesalahan yang banyak terjadi pada sebagian kaum muslimin ketika menumpangi pesawat, mereka meninggalkan sholat di dalamnya hingga keluar waktu sholat. Ini merupakan kesalahan yang jelas serta berdosa besar, dimana bagi setiap muslim wajib berhati-hati.

Memang benar, setiap manusia itu mempunyai perilaku rakus, tamak serta kurang qona’ahnya sebagaimana yang dilakukan dan diperbuat oleh sejenis kera, monyet dan sejenisnya. Rosulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Andaikan seseorang itu sudah memiliki dua lembah dari emas, pastilah ia akan mencari yang ketiganya sebagai tambahan dari dua lembah yang sudah ada itu” (HR Bukhari dan Muslim). Seseorang yang merasa dirinya dalam kefakiran serta kemiskinan, sebaiknya mempunyai sifat qona’ah (menerima apa yang ada sambil terus berusaha memperbaiki nasibnya). Jangan sekali-kali tamak dan rakus pada hak milik orang lain, dan tidak pula menginginkan sesuatu yang ada di tangan mereka. Jangan pula berhati loba atau rakus untuk mencari harta itu dengan segala jalan yang ada, tanpa melihat baik dan buruknya serta halal dan haramnya. Dengan demikian, orang yang miskin dan fakir itu tidak akan ternoda oleh perbuatan loba dan rakusnya (lain dengan loba atau rakus terhadap ilmu pengetahuan diperkenankan untuk itu), sehingga menyebabkan ia menjerumuskan diri memasuki lembah keburukan budi dan kehinaan akhlak atau melakukan kemungkaran-kemungkaran yang terkutuk.

Islam adalah agama yang ajarannya dipenuhi oleh hal-hal yang berkaitan dengan akhlak dan budi pekerti. Dalam segala hal, baik perilaku atau perkataan yang dilakukan oleh umat dalam kehidupannya sehari-hari, telah diatur oleh Islam dengan ajaran mulia yang disebarkan oleh Rosulullah. Salah satunya adalah ibadah secara berlebihan hingga menyiksa diri, sehingga Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang dengan sabdanya, “Jangan memberatkan diri kalian sendiri, hingga kalian jadi terbebani, karena sesungguhnya dahulu terdapat kaum yang berlebihan, hingga akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi beban yang berat pada mereka” (HR Abu Dawud). Larangan tersebut juga berkaitan seseorang yang pada malam hari makan makanan yang berlebihan, sehingga mengakibatkan kantuk dan tidak dapat menunaikan sholat malam.

Dalam kehidupan ini, manusia akan bertemu dengan bermacam macam kesusahan atau musibah. Kesusahan merupakan cobaan (semacam latihan) untuk menguatkan keimanan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk bersabar, jangan lemah semangat dan harus mempunyai pengharapan optimis. Jika ditimpa kesusahan atau musibah haruslah sesegera mungkin kembali kepada sikap hidup yang merupakan tumpuan kembali dengan mengucapkan " Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un” (kita ini adalah milik Allah dan kepada-Nya pula kita akan kembali). Tentunya bukan sekedar mengucapkan kata-kata itu, tetapi mendalami nilai-nilai hikmah dan falsafah yang terkandung dalam rangkaian kalimat tersebut yaitu menghujamkannya ke dalam jiwa dan menerapkannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Hasil yang akan dicapai oleh orang yang melaksanakan sabar dan optimis mempunyai sikap jiwa yang teguh hati. Sikap jiwa yang teguh hati terdiri tiga macam : (1) Karunia (shalawat), artinya bermacam-macam kemuliaan, kehormatan, ketinggian baik pada sisi Allah Subhana wa Ta;ala maupun pada sisi manusia. Ibnu Abbas mengatakan bahwa pengertian shalawat itu termasuk juga ampunan (maghfiroh) Illahi, (2) Rahmat, yang meliputi segala bidang kehidupan, bertemu dalam setiap keadaan dan situasi. Rahmat menimbulkan ridha dan ikhlas menerima bencana yang menimpa, dan (3) Hidayah, yang utama adalah hidayah taufiq.

Satu hal lagi mengenai kekeliruan bahwa kaum muslimat dan kaum muslimin berkeyakinan dalam melakukan sholat berjama’ah bahwa sebaik-baik shaf bagi wanita adalah yang paling belakang dan yang paling jelek adalah yang pertama, sekalipun mereka terpisah jauh dari jama’ah laki-laki. Yang benar adalah jama’ah wanita, jika terpisah dari jama’ah laki-laki maka sebaik-baiknya bagi mereka berada pada shaf pertama, dan yang terjelek adalah yang paling akhir. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah bahwasanya sebaik-baik shaf bagi wanita adalah yang paling terakhir dan yang paling buruk adalah yang pertama, maksudnya adalah shaf-shaf wanita yang mereka gunakan dalam sholat bersama jama’ah laki-laki. Jika mereka sholat terpisah dari jama’ah laki-laki, maka hukumnya seperti shaf laki-laki, yakni yang terbaik adalah yang paling depan dan yang terburuk adalah yang paling belakang.

Memang hidup ini penuh dengan cobaan, penuh dengan hawa nafsu dan keserakahan. Sudah tentu manusia mengalami kesalahan, mempunyai dosa, baik terhadap Allah maupun sesama manusia. Baik dosa kecil maupun dosa besar, berat atau ringan, karena manusia mempunyai hawa nafsu yang cenderung mempengaruhi hati untuk berbuat buruk. Manusia juga mempunyai sifat lalai sehingga cenderung berbuat khilaf. Dalam ajaran agama, dampak dari dosa akan menimbulkan siksa, sedangkan dampak dari amal kebaikan akan mendatangkan pahala. Dua sisi yang bertolak belakang inilah manusia butuh agama. Karena agama akan mengatur atau bagaikan rambu-rambu yang harus dipatuhi. Jika seseorang menabrak rambu-rambu itu, maka ia telah melakukan dosa. Dampak dari dosa itu siksa. Jangan membayangkan bahwa siksa itu hanyalah dapat dirasakan kelak di akherat, tapi di dunia pun orang yang berbuat dosa merasakan siksa itu, yaitu rasa bersalah sering muncul dalam hatinya sehingga timbul gelisah dan tidak tenang. Selama kesalahan itu tidak dibersihkan, maka rasa cemas akan terus menggerogoti jiwanya (ini berlaku bagi orang baik yang beragama maupun tidak).

Lebih-lebih bagi yang beragama, maka penderitaan hati itu dirasa cukup menyiksa dirinya. Allah Maha Bijaksana, namun janganlah kemudian memandang mudah masalah bertauat ini. Karena merasa yakin bahwa Allah Maha Pengampun, lalu memandang mudah untuk bertaubat. Pada umumnya mereka itu menunda-nunda bertaubat, padahal ia menyadari dirinya berlumuran dosa. Karena taubatnya ditunda terus, sementara dosa kian bertamah, maka kedekilan hati bertambah gelap, akhirnya jauh dari hidayah. Bila seseorang jauh dari hidayah maka semakin malaslah untuk bertaubat. Sebagai contoh jauh dari hidayah adalah golongan yang paling keras memusuhi Islam (Yahudi dan Musyrikin), sehingga Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sampai bersabda, khusus kepada Yahudi, “Tiada seorang Yahudi yang bertemu seorang muslim sendirian, melainkan ia berniat akan membunuhnya” (HR Ibnu Mardaweh). Sebaliknya Allah memberitahukan bahwa orang yang paling dekat dengan orang-orang beriman adalah orang Nashrani, yaitu orang Nashrani yang benar-benar mencintai kebenaran yang bersumber dari Allah, seperti Raja Najasi. Karena kecintaan kepada kebenaran itu secara tulus ikhlas maka hatinya menjadi terbuka untuk menerima hidayah, petunjuk dari Allah.

Betapa cerdasnya Rosulullah memberikan jawaban atau solusi sesuai ajaran Allah yang diembannya. Tidak semua kesalahan, beliau sikapi dengan kemarahan, meskipun tentu saja marahnya itu karena Allah. Rosulullah memahami bahwa tidak mungkin memperlakukan semua orang dengan sikap yang sama. Tentunya kita berfikir secara jernih untuk mengungkapkan dua peristiwa tersebut di atas. Satu hal yang seharusnya dapat diambil dari sikap-sikap Rosulullah itu adalah, bagaimana beliau mencari solusi dalam “mengetuk pintu” ke dalam hati seseorang agar orang itu dapat menerima nilai-nilai kebenaran yang menjadi misinya. Sekarang apa urgensinya memperhatikan tuntutan Rosulullah tersebut dalam mengatasi suatu pertanyaan? Ya, jika kita mengamalkan apa-apa yang telah digariskan oleh Rosulullah dalam hal apa saja termasuk dalam mengatasi suatu permasalahan, maka tentu saja kita telah mengamalkan sebagian amal sholeh yang dijanjikan akan dibalas dengan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun lebih dari itu, ada hal lain yang juga merupakan kepentingan kita, yaitu dakwah. Ya, dakwah.

Kita sebagai hamba-Nya yang tidak mampu sedikitpun menentukan kehidupan kita sendiri. Untuk itu, hendaknya kita berusaha atau berikhtiar dengan sekuat tenaga dan kemudian dengan rela dan lapang dada menerima hasilnya yang memang sudah merupakan ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya ketentuan Allah tersebut adalah juga merupakan nikmat yang harus kita syukuri, sebagaimana Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mensyukuri nikmat yang telah diterimanya dalam doanya yang sering diucapkan pada tiap-tiap selesai melaksanakan shalat fardhu untuk mensyukuri nikmat yang telah diterimanya : "Ya Allah, ya Tuhan kami, jagalah kami agar supaya selalu ingat kepada-Mu dan tetap bersyukur kepada-Mu, serta jadikanlah kami termasuk orang yang baik di dalam mengabdi kepada-Mu". Dengan banyaknya dan terlalu seringnya menerima dan merasakan nimat dari Allah, hingga seringkali kita lupa bahwa apa yang telah kita terima dan rasakan itu merupakan nikmat. Contohnya orang sehat, yang berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun dalam keadaan sehat, dan dia sama sekali tidak merasa bahwa kesehatannya itu merupakan nikmat. Ketika ia terserang penyakit, maka ia akan merasakan betapa besar nikmat yang namanya kesehatan itu. Maka sudah seharusnya kita bersyukur, sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri sebagai seorang yang ma'sum atau terpelihara dari dosa saja merasa takut tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur. Apakah kita ini yang berlumuran dosa tidak merasa malu untuk menerima pemberian-Nya tanpa mau bersyukur kepada-Nya? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “…Dan siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan siapa yang ingkar maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia” (An-Naml ayat 40). Maksud ayat ini adalah perintah yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya merupakan bukan hal yang sia-sia belaka, yang pada hakekatnya akan membawa keberuntungan kepada diri kita masing-masing.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengkaruniakan kenikmatan kepada hamba-hamba-Nya dengan mengutus Nabi-Nya dan menurunkan Kitab-Nya yang tidak dapat dimasuki oleh kebathilan, baik dari depan atau belakang, sehingga meluaslan jalan pengambilan ibarat bagi para ahli fikir untuk menguraikan isi-isinya yang berupa berita maupun ceritera. Dengan adanya kitab, menjadi jelaslah jalan yang lurus, yang harus ditempuh, juga aliran yang benar yang harus dilalui untuk memahami pengertian-pengertian hukum yang tercantum di dalamnya. Kitab pulalah yang memisahkan antara yang halal dan yang haram. Fungsinya sebagai cahaya yang cemerlang, dengan berpegang teguh kitab tersebut, maka akan selamatlah setiap manusia dari tipuan. Kandungannyapun penuh dengan penawar untuk menyembuhkan hati dan jiwa yang sakit. Barangsiapa yang berpegang teguh dengan kitab suci itu, pasti ia akan memperoleh petunjuk yang sehat dan barangsiapa yang mengamalkannya pasti akan bahagia selama-lamanya. Allah telah berfirman, “Sesungguhnya Kami (Allah) telah menurunkan peringatan (yakni Al-Qur’an) dan Kami pasti memberi perlindungan padanya (dari perubahan yang dibuat oleh siapapun). Jika kehidupan yang baik di dunia maupun di akherat kelak yang penuh dengan serba kenikmatan dapat dicapai seorang manusia, maka jenjang yang harus ditempuh adalah beramal shaleh dan beriman. Amal shaleh adalah segala perbuatan kebaikan yang mendatangkan manfaat untuk diri sendiri, keluarga, bangsa dan negara (minimal melakukan sesuatu perbuatan yang tidak dilarang Allah itupun amal shaleh). Iman adalah kepercayaan mutlak terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Imanlah yang menjadi sumber segala nilai positif yang diperlukan dalam kehidupan dan penghidupan, bahkan iman merupakan faktor kejiwaan yang menentukan. Bila suatu amal atau perbuatan kebajikan yang tidak dilaksanakan atas dasar iman, misalnya bermotif kemanusiaan, ini merupakan landasan yang rapuh dan sia-sia. Jadi, kehidupan yang baik dapat dicapai oleh seorang muslim hanya melalui amal sholeh dan iman.

Sulit dibayangkan, manakala manusia hidup dan kehidupan ini tanpa daya guna dan hasil guna mengenai waktu. Allah telah memberikan contoh, betapa alam jagad raya ini dikemas dan dikelola melalui “manajemen waktu” yang terstuktur dan terukur. Bagi seorang muslim, harus menghargai dan memanfaatkan waktu, karena Allah telah mengingatkan agar kita mewaspadai keberadaan dan keterbatasan waktu. Ruang lingkup waktu bersifat multidimensi, ada yang pendek atau panjang, ada yang sesaat maupun berkesinambungan. Lebih jauh, Rosulullah mengingatkan kita untuk memelihara lima perkara sebelum tiba perkara yang lima, yaitu masa hidup, sebelum tiba masa mati, masa sehat, sebelum tiba masa sakit, masa longgar, sebelum tiba masa sempit, masa muda, sebelum tiba masa tua, masa kaya, sebelum tiba masa miskin. Jadi sungguh merugi seorang muslim yang tidak menghargai dan mendayagunakan waktunya, karena waktu adalah tanda-tanda kebesaran dan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bila pandai memanfaatkannya, bakal besar daya dan maknanya bagi hidup dan kehidupan kita. Bukankah keterpurukan dan ketertinggalan kaum muslimin saat ini disebabkan oleh rapuhnya penghayatan dan kemalasan dalam memelihara dan memanfaatkan waktu?

Hal yang lain adalah jihad fisabililah, dimana Islam baru menyatakan perang apabila musuh-musuh Islam melakukan kezaliman (penganiayaan, penyiksaan, menahan, menghukum dan mengintimidasi) terhadap umat Islam atau menyerang kepada umat Islam. Karena hal tersebut, Islam mewajibkan umatnya untuk mengenyahkan kezaliman dan permusuhan, sehingga kaum muslimin bebas dari penindasan, rongrongan dan kebiadaban kaum kuffar. Kewajiban jihad ini dimulai dengan memberi dua alternatif untuk dipilih oleh setiap muslim, yaitu (1) Mencintai kehidupan dunia dengan segala kesenangannya seperti kehidupan kekeluargaan (bapak, ibu, anak, saaudara, istri atau suami dan sanak keluarga), kehidupan ekonomi atau segala sesuatu yang mendapatkan keuntungan, kehidupan kemulyaan atau kedudukan, dan (2) Mencintai Allah, Rosul-Nya dan berjihad di jalan-Nya. Apabila alternatif pertama yang menjadi pilihan, maka Allah tidak akan memberikan bimbingan dan petunjuknya sehingga setiap saat terjadi bencana dan azab akan menimpanya. Dan pada umumnya, umat Islam memilih alternatif kedua, sebagaimana dibuktikan dalam sejarah perjuangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, dengan jalan pergi hijrah ke Madinah untuk mempertahankan agama-Nya serta menempuh cita-cita luhurnya, meninggalkan semua keluarga, harta kekayaan, jabatan serta kehormatan yang ada di kampung halaman mereka.

Banyaklah sekarang di media elektronik menyebarkan ajaran-ajaran agama Islam, sehingga membuat gerah ajaran agama lain atau agama islam yang menganut liberal dan mereka mengacaukan setiap status dan note dengan berbagai komentar yang menurut pendapat mereka adalah benar. Padahal mereka hanya mendasarkan pada akal saja, bukan pada dalil al-Qur’an dan hadits, bahkan ada juga mendasarkan dalil dan hadits namun dengan pemikiran akal (dengan rasa kesombongannya) untuk meyakini apa yang diutarakannya. Pada umumnya mereka itu hanyalah mengolah bahasa saja dengan didukung akal pemikiran logis (merupakan strategi mereka). Apakah mereka itu ahli menafsirkan bahasa Arab, yang nota bene adalah bahasa Al-Qur’an dan bahasa ajaran Islam? Bisa saja mereka sedikit mengetahui dan memahami, namun tidaklah secara kaffah (keseluruhan) dengan menyimpulkan sesuatu. Mereka itu gagal menemukan Tuhan seperti halnya para pencuri gagal menemukan polisi, yang persoalannya ada di dalam mentalnya. Mereka itu menganggap bahwa orang yang religious saja belum cukup sehingga bertanya orang yang beragama atau orang baik? Selanjutnya bertanya lagi, agama itu merupakan kebutuhan atau keharusan? Buat apa mengharapkan syurga? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Katakanlah : Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) kamu mengada-adakan terhadap apa yang tidak kamu ketahui” (Al-A’raf ayat 33).

Agar lebih menguatkan iman kita, ada baiknya memahami “Syahadatain” yang merupakan dua unsur urat nadi “aqidah”, yang menjadi anak kunci membuka pintu gerbang ajaran Islam. Untuk diakui menjadi seorang muslim dengan mengucapkan “asyhadu al laa ilaaha illaallah wa asyhadu anna muhammadar rosuulullah”, aku mengakui bahwa tidak ada tuhan yang lain kecuali Allah dan bahwasanya Nabi Muhammad adalah utusan Allah”. Pengakuan atas kalimah syahadat, haruslah diucapkan oleh seorang pemeluk Islam atau yang hendak menganut agama Islam. Keislaman seseorang belum sah tanpa mengucapkan kalimat syahadat tersebut. Kalimah syahadat harus diucapkan secara formil dengan lidah, tentu saja pengakuan yang diucapkan semestinya sesuai dengan suara dan pengakuan hati nuraninya sendiri. Namun, untuk mengetahui apakah sesuai ucapan dengan getaran hati nuraninya itu merupakan kompetensi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, syarat yang ditetapkan pada tingkat pertama untuk menjadi seorang muslim, hanyalah mengucapkan kalimah syahadat itu saja, sedangkan hakekat yang sebenarnya dalam hati adalah urusan orang yang bersangkutan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesudah mengucapkan kalimah syahadat itu, barulah terpikul di pundaknya kewajiban-kewajiban (konsekkuensi) yang harus dilaksanakan oleh seorang muslim.

Bila seseorang seseorang membaca dan mendengar serta memperhatikan sejarah Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, juga berita-berita yang disampaikan mengenai akhlaknya, adat istiadatnya, wataknya dan tabiatnya, kemuliaan sifat-sifatnya dan bagaimana strategi terhadap seluruh makhluk dalam cara memberikan petunjuk ajaran agama yang dibawanya, bagaimana menghubungan dan berhubungan dengan seluruh lapisan masyarakat (antara golongan dengan golongan lainnya), bagaimana cara memimpin untuk mentaati perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, tak lupa menyebutkan bagaimana keajaiban atau kekuatan yang dipunyainya dalam menjawab segala macam pertanyaan sahabat-sahabatnya yang pelik dan rumit, bagaimana cara mengatur untuk kebaikan seluruh umat manusia, isyarat-isyarat yang diperlihatkan dalam mengupas urusan syari’at bagi semua orang yang berakal, maka orang tersebut tidaklah ragu-ragu dalam hatinya dan kalbunya bahwa apa yang Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam perlihatkan itu hanyalah semata-mata pertolongan dari suatu kekuasaan yang luar biasa atau dari kekuatan Ilahiah belaka. Segala hal ihwal mengenai Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan keyakinan dan sebagai bukti yang menguatkan kebenaran pengakuannya, sehingga bagi setiap orang Arab yang jujur, sekalipun wataknya yang kasar pasti akan berkata, “Demi Allah, wajah yang demikian itu bukanlah wajah seorang pendusta”. Dengan hanya menilik wajahnya saja pastilah ia akan membenarkan pengakuannya. Tabir kebenaran yang menjadi perhatian manusia baik muslim maupun non muslim terhadap Muhammad sebagai manusia terungkap mengenai budi pekertinya

Itulah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam pembawa risalah kebenaran dan Allah lah yang membedakan manusia dari seluruh jenis hewan dengan akal dan menyinarinya dengan fitrah, serta menyempurnakannya dengan kenabian. Manusia secara naluriah adalah makhluk berbudaya. Karena itu setiap individu, pandangan dan perasaannya terhadap masyarakatnya haruslah konstruktif sebagaimana ia mengambil maka ia harus memberi. Seperti hal nya orang lain membantu kebutuhannya maka ia pun harus andil dalam memenuhi hajat orang lain. Akan tetapi sikap egois atau perbedaan pemahaman dan potensi beramal sering membuat sebagian manusia menjauhi kebenaran, mungkin itu karena malas, salah tindakan atau karena unsur penipuan, dan ia menempuh berbagai cara guna memenuhi keinginan dan gharizahnya. Dan hal itu tidak lain, adalah agama dan cahaya iman yang menjadikan setiap individu merasa bahwa Allah Yang Mahatahu senantiasa mengawasi gerak-geriknya. Ia merasa bahwa Allah yang nampak bagi-Nya seluruh apa yang ada di langit dan di bumi akan membalas semua orang atas amal-amalnya. Maka datanglah ajaran samawi untuk membimbing manusia menuju kebahagiaan dengan sangat memprhatikan roh dan jasad secara seimbang. Ia menggariskan suatu jalan yang harus dilalui untuk mewujudkan keinginan dan gharizahnya. Maka Islam mengharamkan pembunuhan dan kerahiban karena mengekang naluri dan keinginan manusia, Ia memerintahkan untuk menikmati rizki halal lagi baik, serta mengharamkan khaba’its (yang kotor dan menjijikkan). Ia memerintahkan untuk beribadah kepada-Nya dengan memurnikan keikhlasan untuk-Nya dan melarang kekufuran, kefasikan serta kemaksiatan dalam banyak ayat Al-Qur’an.


Thursday, April 7, 2011

BILA DI DUNIA BUTA HATINYA, MAKA DI AKHIRAT NANTI AKAN LEBIH SESAT JALANNYA


Kita wajib beriman kepada para nabi dan rosul-Nya secara umum, nabi yang kita ketahui maupun yang tidak, maka begitu pula kita wajib mengimani secara khusus kepada para rosul yang disebutkan namanya oleh Allah. Telah disebutkan dalam Al-Qur’an lebih dari 20 nama rosul, dengan meyakini bahwa Allah juga mempunyai rosul-rosul. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rosul sebelum kamu, diantara mereka ada yang Kami ceriterakan kepadamu dan diantara mereka ada yang tidak Kami ceriterakan kepadamu...”(Ghafir ayat 78). Secara nyata dan jelas bahwa Allah telah menyempurnakan nikmat-Nya untuk kita dengan menunjukkan kepada jalan yang lurus, dan telah menyempurnakan agama kita sehingga kita tidak perlu lagi kepada yang lainnya, juga tidak kepada nabi lain selain nabi kita (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam), karena Allah telah menjadikannya sebagai penutup para nabi, tidak ada yang halal kecuali yang sudah dihalalkannya, dan tidak ada yang haram melainkan yang sudah diharamkannya, serta tidak ada agama kecuali apa yang telah disyaariatkannya. Beliau adalah utusan Allah kepada makhluk semuanya. Semua rosul menjelaskan bahwa mereka bukanlah malaikat, tidak mengetahui yang ghaib dan tidak memiliki perbendaharaan Allah, akan tetapi mereka adalah manusia yang diistimewakan oleh Allah dengan menerima wahyu, dan mencapai puncak derajat kemanusiaan yaitu ubudiyah (penghambaan) yang murni kepada Allah Robbul ‘Alamiin.

Bila seseorang ditakdirkan berada di suatu benua atau pulau yang tidak pernah mendengar berita agama, dan tidak pula terdapat bekas-bekas agama di sana, seperti misalnya Eropah, atau pernah mendengar mengenai agama di zaman-zaman yang lampau, akan tetapi kemudian dilupakan orang seperti di Mesir umpamanya (sebelum kedatangan kedua orang rosul yaitu Yusuf dan Musa ‘alaihissallam), apakah mereka terpengaruh dengan agama? Tidak perlu diragukan lagi bahwa perbedaan dan pertentangan menjadi sebab utama dari kedatangan agama-agama langit, guna menghilangkan kekacauan dan kegoncangan yang timbul karena perbedaan kepercayaan dan upacara keagamaan. Oleh karena itu, Tuhan Pencipta Alam-pun meletakkan batas bagi tindakan yang berbeda-beda (tidak senonoh) itu dengan perantaraan lisan para Rosul-Nya, bahwa agama yang benar itu adalah agama langit, dan bahwa bangsa-bangsa itu tidak boleh campur tangan untuk membuat ketetapan agama langit tersebut, dan agama langit hanyalah mempunyai satu sumber yaitu langit (Allah). Oleh sebab itu, setiap orang yang berakal merasa penting adanya suatu keadaan masyarakat yang berpendapat bahwa mensiarkan akhlak keagamaan itu wajib hingga sampai ke negara-negara yang tidak mempunyai agama. Lebih dari itu, harus diingat bahwa ilmu pengetahuan mengakui dengan terus terang bahwa asas kemasyarakatan yang paling sempurna dan tingkatan kemakmuran hidup yang paling tinggipun merasa berhutang budi semata-mata dan satu-satunya hanya kepada agama bukan kepada teori kaum cerdik pandai dan ahli-ahli filsafat.

Demikian pula menurut pandangan Islam, bahwa perkawinan merupakan suatu ikatan yang suci, dimana perkawinan adalah sebuah bangunan yang kokoh lagi terhormat, yang tidak boleh dicampuradukan dengan suatu penyakit dan tangan-tangan kotor yang dapat membinasakannya. Tanggungjawab yang besar dalam suatu perkawinan dimaksudkan agar memperkecil terjadinya perceraian, dimana mengembalikan manusia kepada kesucian hati, membentuk eksistensi kekeluargaan dan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada keluarga untuk bekerja demi terealisasinya segala kewajiban yang diembannya. Orang sering mempertanyakan mengenai kebudayaan Islam tidak memperlakukan secara manusiawi terhadap kaum hawa, sebagai contoh : Islam membolehkan poligami, sedangkan pada kekebudayaan Eropah dan Amerika (bahkan Australia) yang umumnya beragama lain tidaklah demikian, sehingga para kaum hawa ditakutkan tidak diperlakukan secara manusiawi. Apakah hal ini benar? Pernyataan tersebut tidaklah benar, karena Rosulullah mengajarkan bahwa para kaum wanita harus diperlakukan dengan baik sebagai amanah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalam ajaran agama Islam, ibadah yang sebenarnya adalah ibadah yang memenuhi syarat ikhlas dan ittiba’ (mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Ikhlas dalam niatnya (karena Allah) dan ittiba’ dengan konsisten mengikuti ajaran-ajaran samawi berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “..agar Dia menguji siapakah diantara kamu yang lebih baik amalnya...” (Hud ayat 7). Manusia diciptakan untuk diuji, Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat” (Al-Insan ayat 2). Ujian tersebut telah disitir oleh Rosulullah dengan sabdanya, “Jauhilah tujuh perkara yang membawa kepada kehancuran”. Para sahabat bertanya, “Apakah ketujuh perkara itu, wahai Rosulullah?”. Beliau menjawab “Yaitu syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan sebab yang dibenarkan agama, memakan riba, memakan harta anak yatim, membelot dalam peperangan dan melontarkan tuduhan zina terhadap wanita-wanita mukminah yang terjaga dari perbuatan dosa dan tidak tahu menahu tentangnya” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk adalah salah satu rukun iman. Takdir adalah satu mata rantai dari untaian tauhid. Dan beriman kepada sebab-sebab yang menghantarkan kepada takdir yang baik maupun yang buruk adalah aturan syariat. Tidak akan lurus dan benar urusan dunia dan agama ini tanpa adanya iman kepada tauhid dan syariat. Oleh karena manusia bisa memilih dalam perbuatannya, baik itu iman dan istiqamah atau pun kebaikannya, karena itu diadakanlah pertanyaan, hisab, pahala dan siksa. Tetapi hal ini tidak berarti perbuatan manusia keluar dari kekuasaan Allah, karena ia tidak mampu berbuat kecuali dengan apa yang Allah telah kuasakan atasnya. Ia tidak berkehendak dan berbuat kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah untuk dikerjakannya sebagaimana disebutkan dalam dalil-dalilnya.

Selanjutnya, apa-apa yang melampaui batas selamanya tidak baik. Begitu pula halnya dalam urusan berbicara. Bila seseorang, perlu tidak perlu merasa selalu harus berbicara baik itu menyangkut urusannya atau bukan serta tidak peduli yang diucapkannya salah atau benar, maka tentunya termasuk kategori berbahaya. Seringkali pembicaraan-pembicaraan yang tak kenal batas dan kaidah syar’i itu lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Termasuk ke dalam katagori yang berbahaya dan tentunya berdosa adalah pembicaraan yang berupa ghibah (membicarakan keburukan-keburukan orang), dusta, lelucon kotor, fitnah dan kata-kata celaan atau hinaan. Seseorang mudah berbicara, menyuruh orang untuk baik, beribadah dan sebagainya, namun biasanya lupa menyuruh dirinya sendiri. Betul? Untuk itu, “ada saatnya berbicara dan ada saatnya diam” perlu direnungkan dan difahami. Sebagai contoh, dalam suatu survey pernah ditanyakan kepada sekumpulan anak remaja (pelajar) mengenai suatu masalah yang paling mereka sesali. Mayoritas mereka menjawab, “Saya tidak mengenal siapa ibu bapak saya sebenarnya”, mekipun mereka hidup di bawah satu atap, satu keluarga, mereka tidak dapat memahami satu sama lain secara baik.

Kita ternyata tidak begitu memahami orang-orang yang dekat dengan kita. Boleh jadi, anda belum mengenal secara baik dengan suami anda atau sebaliknya anda belum mengenal baik dengan istri anda, padahal kita hidup telah berpuluh-puluh tahun. Ini bisa saja terjadi, karena anda tidak mengetahui cara berkomunikasi yang baik. Contoh dalam memahami orang-orang yang dekat dengan kita adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz menawarkan kepada istrinya, apakah Fathimah akan mengikuti cara hidup baru yang dilakukan oleh suaminya, atau kalau tidak ingin menderita, lebih baik kembali kepada keluarganya. Apa jawaban Fathimah?. “Ya..suamiku. Lakukanlah apa yang engkau kehendaki dan aku akan selalu mendampingimu. Aku bukanlah wanita yang hanya suka mengikut dalam kesenangan, namun jika kesusahan datang, aku meninggalkanmu!”. Selanjutnya, khalifah zuhud itu berkata kepada istrinya, “Fathiman, kau tahu bukan, bahwa semua harta yang ada di tangan kita, di tangan saudara-saudara kita, berasal dari kaum muslimin. Aku ingin menarik dan mengembalikan semua itu ke Baitul Mall. Hal itu akau akan mulai dari diriku sendiri. Aku tidak akan menyisakan sedikitpun selain sebidang tanah yang kubeli dengan harta bayaranku sebagai pegawai. Dan aku akan hidup dari tanah itu..!”.

Fatimah memahami bahwa suatu saat dicabut rohnya (keadaan di saat naza’) maka yang merasakan sakit adalah roh. Jika anggauta tubuh terluka atau terbakar, maka rohnya merasa sakit. Sebanyak rasa sakit yang dirasakan roh, itulah rasa sakit yang diderita tubuh. Rasa sakit itu tersebar ke seluruh bagian tubuh, sementara rasa sakit yang dirasakan oleh roh hanya sebagian saja. Jika rasa sakit itu menimpa roh itu saja dan tidak menimpa yang lainnya, maka betapa hebat dan kerasnya rasa sakit itu. Begitu dahsyatnya kematian itu tidak dapat diketahui secara pasti, kecuali oleh orang yang telah merasakannya. Sedangkan orang yang belum merasakannya dapat diketahui dengan mengkiaskannya sebagaimana Umar radhiallahu ‘anhu berkata kepada Ka’ab al-Ahbar, “Hai Ka’ab, ceritakan kepada kami tentang kematian”. Ka’ab menjawab, “Baik wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya kematian itu seperti sebatang ranting yang banyak durinya, lalu dimasukkan ke dalam tubuh seseorang dan setiap duri diambil pada setiap urat. Kemudian ditarik oleh seseorang dengan keras.Ia ambil apa yang ingin diambilnya, dan ia tinggalkan apa yang ingin ditinggalkannya”. Fatimah juga menyadari bahwa kedermawanan itu pada dasarnya adalah sebagai ibarat memberikan sesuatu yang sudah lebih dari keperluannya sendiri kepada orang yang membutuhkan atau orang yang tidak membutuhkan. Oleh karena itu, jikalau seseorang memberikan hartanya yang ia sendiri masih membutuhkannya, maka itulah kedermawanan yang seutama-utamanya dan sulit untuk dilakukan. Inilah yang dinamakan lebih memerlukan kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya sendiri.

Itulah kecantikan seorang istri (wanita), karena Kkcantikan seorang istri itu relatif. Bila kecantikannya diukur dengan fisik yang menjadi daya tarik, hanya melenakan pada pandangan pertama atau saat awal bertemu dan belum tentu pesona kecantikan karena fisik ini tidaklah berjangka waktu yang panjang. Namun, bila kecantikannya dengan ukuran menarik, maka akan menjadi lain. Kenapa? Menarik itu terbentuk dari keutuhan kepribadian. Berbagai hal yang menjadikan seseorang itu “menarik”, yaitu mulai dari kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional hingga kecerdasan spiritual dan kecerdasan religius. Begitu juga kegantengan atau ketampanan seorang suami (pria) itu relatif. Berbagai hal yang menjadikan seorang istri itu menjadi tertarik kepada suaminya, yaitu Penuh Pengertian, Setia, Sabar dan Pemaaf, Teguh Hati dan Bersemangat, Romantis, Rapih dan Wangi, Ceria dan Ramah, Menjadi Pemimpin yang Melindungi.

Satu hal lagi adalah sifat pemarah yang tidak disukai baik oleh istri (wanita) maupun suami (pria), karena marah itu sebenarnya adalah nyala api yang bersumber dari api Allah yang menyala berkobar-kobar serta menjulang tinggi sampai naik ke hulu hati. Marah adalah semacam bara api yang berada di dalam lubuk jantung, bagaikan sekamnya suatu bara api di bawah abu. Marah itu ditimbulkan oleh sifat kesombongan yang terpendam dalam kalbu setiap orang yang curang dan durhaka sebagaimana memancarnya api dari batu yang dipukulkan pada besi. Para ahli yang mengetahui cahaya kebenaran dan keyakinan mengatakan bahwa manusia itu adakalanya dapat tertarik urat sarafnya oleh tipu daya syaitan yang terlaknat. Oleh karena itu, barangsiapa yang dapat dipengaruhi oleh api kemarahan, maka berarti amat eratlah hubungannya dengan syaitan, sebagaimana firman-Nya, “Engkau (ya Tuhan) menjadikan saya (syaitan) dari api dan menjadikan ia (Adam) dari tanah” (Al-A’raf ayat 12). Emosi dan perasaan itu timbul karena dua hal, yaitu kegembiraan yang memuncak dan musibah yang berat. Rosulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku melarang dua macam ucapan yang bodoh lagi tercela, yaitu keluhan tatkala mendapatkan nikmat dan umpatan tatkala mendapatkan musibah”. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun berfirman, “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu” (Al-Hadid ayat 23). Emosi yang tak terkendali itu hanya akan melelahkan, menyakitkan dan meresahkan diri sendiri, karena ketika marah, maka kemarahannya akan meluap dan sulit dikendalikan sehingga akan membuat seluruh tubuhnya gemetar, mudah memaki siapa saja, seluruh hatinya tertumpah ruah, nafasnya terengah-engah, tersenggal-senggal, dan cenderung akan bertindak sekehendak nafsunya. Bila saat gembirapun, ia menikmatinya secara berlebihan, mudah lupa diri, dan tidak ingat lagi siapa dirinya. Di saat itulah syaitan masuk ke dalam tubuhnya, mengguncang-gundangkan kalbunya dan menutupi mata serta telinga sehingga tanpa sadar ia melakukan apa saja yang diperintahkan oleh syaitan yang terkutuk.

Demikian juga banyak orang saat ini salah mengartikan masalah “Khamar” atau “Minuman Keras” atau lebih luas lagi dengan “Narkoba”, dimana mereka itu menetapkan dalilnya seenak sendiri, artinya yang dapat menguntungkan dirinya sendiri. Kenapa? Karena mereka itu sangat menikmati hal-hal yang melupakannya sesaat, menghilangkan keruwetan hidupnya yang sesaat, menyenangi dan memperkuat khayalannya yang sesaat. Hal ini tidak saja digandrungi oleh para remaja yang merasa kuat dan sombong atau mencari jati dirinya yang menyimpang, juga para orang tua yang sedang menghindari kesulitan dan keruwetan dalam hidupnya. Ya, baik dari jenis laki-laki maupun perempuan. Mereka tahu akan hukum dan akibat perbuatannya, namun selalu melakukan perbuatan itu, dan bahkan menjadikan kebiasaannya. Coba bayangkan, apa yang akan terjadi pada bumi seandainya esok hari “matahari” tidak terbit ?. Dalam waktu beberapa jam saja, bumi akan terasa dingin seperti dinginnya musim dingin. Setelah beberapa hari berlalu, sungai, danau dan waduk akan mulai membeku, dan tumbuhan serta hewan akan mulai berjatuhan mati satu persatu. Tidak lama setelah itu, SPBU akan menjadi padat. Mesin-mesin tidak akan bekerja, dan generator pembangkit listrik akan berhenti. Tidak ada cara apapun untuk mengangkut makanan ke toko atau untuk membawanya pulang. Jika tidak dapat ditemukan bahan bakar untuk membuat api, tidak akan ada cahaya atau panas. Namun, apakah hal ini benar-benar dapat terjadi?

Untuk mengatasi sifat emosi dan melupakan sesaat, hendaknya memahami firman daAllah Subhanahu wa Ta’ala, “Sesungguhnya sholat itu adalah merupakan kewajiban yang ditentukan atas semua orang mukmin” (An-Nisa’ ayat 103). Pernah Rosulullah ditanya, “Amalan-amalan apakah yang lebih utama?”. Beliau menjawab, “Yaitu sholat tepat pada waktunya” (HR Bukhari dan Muslim). Selain itu, Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Yang pertama ditanyai manusia di hari kiamat dari amalnya adalah sholatnya, bila diterima sholatnya, diterima semua amalnya, dan bila ditolak sholatnya, ditolak semua amalannya”. Rosulullah juga pernah bersabda, “Akan datang bagi manusia suatu zaman dimana mereka sholat, namun dianggap Allah mereka tidak sholat”. Para sahabat bertanya, “Kenapa ya Rosulullah?”. Beliau menjawab, “Karena mereka tidak menyempurnakan berdirinya, rukuknya dan sujudnya, lebih-lebih ucapannya”. Lagi Rosulullah bersabda, “Seorang selesai menunaikan sholat, tetapi yang diterima dari sholatnya itu sepersepuluhnya, sedangkan sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya dan seperduanya”. Ketika ditanya oleh para sahabat, “Kenapa begitu ya Rosulullah?”. Beliau menjawab, “Sholat yang diterima hanya yang dimengerti oleh pelakunya”. Perlu diketahui bahwa sholat yang dikerjakan dengan khusyu’ dan penuh dengan ketundukan serta kepasrahan yang total kepada Rabb akan memberikan energy spiritual. Energi inilah yang mengajak hati menjadi tenteram dan jiwa menjadi damai. Sholat dengan konsentrasi yang penuh untuk mengarahkan seluruh anggauta tubuh dan ruhani bergerak menuju Rabb, akan menyeret diri kita dalam suasana yang santai dan rileks, karena kita sedang melepaskan diri dari keadaan riil dan segala macam keruwetan peristiwa disekitar kita. Kondisi jiwa yang tenang dan fikiran yang bebas dari pengaruh sholat merupakan pengobatan yang efektif dalam menangani ketegangan dalam syaraf.

Tujuan diutusnya Rosulullah adalah mensucikan jiwa (tazkiyatun nafs) dari kezhaliman dan kesesatan. Kebersihan atau kesucian jiwa ini sampai-sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah sebagaimana firman-Nya, “Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh rugilah orang yang mengotorinya” (Asy-Syamsu ayat 1-10). “Bagaimana cara membersihkan jiwa itu?”. Ada tiga hal pokok untuk mencapainya, yaitu tauhid yang shahih, itba’ur Rosul dan tarkul-ma’ashi.

Mengenai pensucian jiwa dari kesyirikan, sebenarnya pernah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya kepada kaum Nashrani dengan cara mubahalah adalah suatu cara untuk mengakhir perselisihan dan pertentangan diantara kedua belah fihak yang bersengketa dengan cara masing-masing fihak memohon kepada Allah, agar Allah menjatuhkan kutukan dan laknat-Nya kepada fihak yang berdusta. Ketika itu, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kisah yang sebenarnya mengenai Nabi Isa ‘alaihis sallam, putra Siti Maryam, yaitu bahwa Maryam dikenal sebagai seorang sholehah, yang tekun beribadah dan selalu menjaga dirinya dari segala dosa. Siti Maryam tidak pernah bersuami, dan tidak berhubungan dengan seorang pria sekalipun, namun meskipun tidak pernah berhubungan dengan seorang pria, Siti Maryam hamil dan melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Isa. Kejadian seperti ini bagi Allah sudah barang tentu sangatlah mudah. Bukankah Allah telah menciptakan alam semesta berikut isinya, dari tidak ada menjadi ada? Tidak ada sesuatu pun yang sulit bagi Allah. Oleh karena itu dalam kaitan dengan kejadian Isa ‘alaihis sallam, Allah dengan tegas berfirman, “Sesungguhnya, misal (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya : Jadilah (seorang manusia), maka jadilah ia” (Ali Imran ayat 59). Satu hal lagi di antara ajaran Islam yang sering menjadi sasaran bulan-bulanan cacian, cercaan serta cemoohan para kaum kafir adalah ajaran berpoligami dalam Islam, khususnya poligaminya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Tuduhan beracun yang mereka lemparkan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau dituduh sebagai orang yang mempunyai kelainan sexual (hipersex). Mereka menggambarkan kebencian mereka dengan membuat gambaran Buraq sebagai makhluk berwajah wanita cantik, sebagai tunggangan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam peristiwa isra’ dan mi’raj.

Orang-orang kafir, baik Yahudinya, Nashraninya dan musyriknya, menuduh Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang buas kepada wanita. Akibatnya, banyak diantara orang yang mengaku diri muslim, ikut-ikutan mempercayai tuduhan beracun tersebut. Sudah jelas, bagi pemeluk Islam yang terlibat dan terseret mempercayai tuduhan beracun tersebut kembali kepada ketidak mengertian (memahami) akan ajaran Islam serta hikmah “tasyri” yang berada dalam setiap ketetapan hukum Islam. Untuk itu, perlu diketahui dan disadari serta difahami, meskipun tidak secara mendalam, apa sebenarnya hikmah yang berada di balik (latar belakang) berpoligaminya Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang dituduhkan oleh mereka terhadap Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang mempunyai kelainan sexual (hipersex) dan sebagainya tidaklah benar dan merupakan suatu propaganda murahan tanpa dibuktikan dengan faktanya. Bahkan umat Islam sendiri dengan dalih ibadah dan mengikuti sunah Nabi, suka dengan poligami, padahal hanyalah nafsu belaka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin, dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka” (Al-Ahzab ayat 6). Ayat ini dimaksudkan bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang nabi dan rosul bagi orang-orang mukmin yang berasal dari kaumnya sendiri (Quraisy) dan istri-istri beliau merupakan ibu-ibu dari orang-orang mukmin, yang janda (setelah Rosulullah wafat) diharamkan untuk dinikahi oleh orang-orang mukmin (sahabat beliau). Ayat ini harus diyakini benar dan dijunjung tinggi kehormatan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam baik sebagai nabi maupun rosul-Nya.

Tuduhan beracun dan berdalih ibadah mengikuti sunah Nabi di akherat akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, apa-apa yang dilakukan selama hidupnya di dunia ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati. Akan diminta pertanggungjawabannya” (Al-Isra’ ayat 36). Selanjutnya dari Abu Barzah Al-Aslami, bahwasanya Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Tidaklah bergerak kedua kaki hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara : tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang tubuhnya dalam kegiatan apa digunakan, tentang amalnya untuk apa ia beramal, tentang hartanya dari mana ia memperolehnya, dan untuk keperluan apa ia membelanjakannya” (HR Muslim dan Tirmidzi). Dengan hanya memperhatikan tanda-tanda kekuasaan-Nya lah, kita dapat mengetahui akan keberadaan dan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala, tentunya harus yakin dan faham betul bahwa tidak ada satu makhluk pun yang semuanya pasti ada yang menciptakan. Dan siapakah yang menciptakan makhluk-makhluk tersebut kalau bukan Allah?. Buta mata, belum tentu membawa bencana, tetapi buta hati, sudah pasti akan mendatangkan siksa. Kenapa? Karena apabila manusia sudah menderita penyakit buta hati, selama ia belum mendapatkan cahaya Ilahi yang berupa petunjuk kebenaran atau hidayah, maka selama itu pula ia akan tersesat jalannya. Bukan jalan menuju syurga yang ia tempuh, melainkan jalan menuju ke neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa yang buta (hati) di (dunia) ini, maka ia buta di akherat nanti, dan bahkan lebih sesat jalannya” (Al-Isra’ ayat 72).

Sekarang berilah hak tubuh kita untuk beristirahat dari seluruh aktivitas yang dilakukannya (termasuk tuduhan beracun), karena setiap orang memiliki kekuatan yang terbatas. Tubuh yang kekar sekalipun akan mengalami kelelahan. Allah Yang Maha Mengetahui semua kelemahan makhluk-Nya, sehingga memberikan malam sebagai istirahat sebagai bukti kemurahan dan kasih sayang-Nya sebagaimana ditegaskan dalam Surat Al-Qashash ayat 73, "Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagian dari karunia-Nya (pada siang hari), dan agar kamu bersyukur kepada-Nya". Islam sesuai dengan tuntunan dan ajaran yang dibawa oleh Rosulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam sangat memperhatikan hak-hak yang harus diperoleh tubuh kita. Bahkan ditegaskan bahwa kita harus memenuhi hak-hak yang harus diperoleh tubuh kita, diantaranya adalah “hak untuk tidur”. Tidur merupakan hak tubuh kita untuk istirahat. Dalam ajaran Islam, tidur adalah karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya sebagai suatu nikmat dan tidur juga dapat dikatakan sebagai ibadah. Kenapa ibadah? Ya, ibadah bila tidurnya mengikuti petunjuk yang diajarkan oleh Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Kaum muslimah hendaknya tidak ikut-ikutan apa yang dilakukan (pola hidup) wanita jahiliyyah yang bebas dan malas merawat atau mendidik anak. Untuk itu, hendaknya bagi setiap wanita muslimah berkewajiban untuk membangun keluarga bahagia yang diridhoi dan dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena rumah tangga merupakan kehormatan bagi setiap wanita muslimah. Ungkapan ini bukanlah berarti Islam mengekang kaum wanita, bahkan Islam mengajarkan agar kaum muslimah diwajibkan mendidik anak-anaknya untuk menuntut ilmu yang sesuai dengan fitrahnya. Mewajibkan untuk menjadi pendidik dan induk generasi, tentu seorang muslimah harus pandai dan cerdas. Usaha ke arah ini dilakukan tanpa harus menjadikan mereka melalaikan tugas yang sebenarnya dalam rumah tangga. Banyak para wanita terperangkap pada kesibukan yang seharusnya merupakan tugas kaum pria, sehingga mereka terjebak menjadi makhluk yang tidak berharga di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rosul-Nya. Wanita yang berada di luar rumah, turut aktif bersama kaum pria sebenarnya merugikan dirinya sendiri. Kondisi fisiknya akan menjadi semakin lemah, karena fitrah yang berlangsung tidak dapat ditolaknya. Efisiensi kerja dalam struktur rumah tangga pun terganggu, sehingga berakibat seringkali terjadi konflik yang mengganggu keutuhan rumah tangga (misalnya terjadi perselingkuhan).

Pendidikan anak menjadi terbengkalai dan lahir atau moralnya anak-anak yang dibesarkan oleh pembantu atau orang lain menjadikan kurang sempurna. Hal inilah yang merupakan buah dari slogan kebebasan wanita yang didengung-dengungkan oleh orang-orang di luar Islam. Padahal hasil dari gerakan kegiatan di luar rumah adalah menghancurkan fitrah kemuslimahannya. Bisakah seorang muslimah yang sekaligus dapat menjadi fitrahnya (kegiatan rumah tangga) dengan memperoleh penghasilan dengan kegiatan di rumah untuk mensejahterakan rumah tangganya (misalnya memproduksi barang-barang asesoris yang dapat dijual, jahit menjahit dan sebagainya) ? Bila dapat dilakukan adalah lebih baik daripada terperangkap pada kesibukan di luar rumah.

Manusia diwajibkan mensyukuri nikmat yang telah Allah anugerahkan, tak terkecuali dengan kesehatan yang telah Allah berikan kepada manusia. Untuk itu harus pandai-pandailah menjaganya, karena kesehatan merupakan salah satu nikmat Allah. Namun kebanyakan manusia terlena manakala tubuhnya terasa sehat tanpa ada gangguan rasa sakit. Begitu juga waktu luang, kadang dipergunakan untuk pekerjaan atau perbuatan yang tidak bermanfaat bagi dirinya, bagi keluarganya dan bagi lingkungannya. Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Dua nikmat yang kebanyakan membuat manusia terpedaya olehnya yaitu sehat dan waktu luang (kosong)” (HR Bukhari). Dalam keadaan tubuhnya terasa sehat, manusia lupa bahwa tubuh ini perlu kalori untuk mendapatkan energy untuk menunjang ketahanan tubuhnya, sehingga tidak jarang akibat lupa makan menjadi tubuh melemah dan mempengaruhi komposisi unsur dalam tubuh. Sedangkan makan tanpa ada kebutuhan untuk itu (tidak lapar) akan menyebabkan kekebalan. Makan tanpa didahului rasa lapar dapat menimbulkan penyakit. Untuk menghindari terjangkitnya penyakit, jalan yang terbaik dan mudah adalah mengikuti petunjuk Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, “Kami adalah satu kaum yang tidak makan kecuali karena lapar, dan apabila kami makanpun tidak pernah terlalu kenyang”. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun melarang makan terlalu banyak (kekenyangan) sebagaimana firman-Nya, “Makan dan minumlah kalian, jangan berlebihan”. Benar-benar kesehatan itu harganya mahal sekali. Coba anda lihat, berapa banyak orang-orang di rumah sakit yang penyakitnya tak kunjung sembuh bahkan ada yang beberapa minggu masih dalam keadaan koma di ruangan ICU. Untuk itu, ajaran agama Islam sangat dianjurkan bagi seorang muslim untuk memohon doa kesehatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena kesehatan merupakan karunia atau nikmat terbaik setelah keimanan.


Saturday, April 2, 2011

ASAL MANUSIA DARIPADA TANAH KEPADA TANAH AKAN DIKEMBALIKAN

Allah Yang Maha Kuasa berfirman “Maha Suci Allah, yang telah menciptakan segala sesuatu berpasangan-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan dari bumi, dan dari diri mereka sendiri mahupun dari apa yang mereka tidak ketahui”[Yaasiin 36:36].

...Nabi Muhammad (SAW) bersabda “Sesungguhnya, Allah telah menciptakan Adam dari segenggam tanah yang Allah ambil dari semua bahagian bumi; Oleh itu, anak-anak Adam datang ke bumi mengikut keseluruhan bahagian bumi tersebut , di antaranya ada yang berwarna merah, putih, hitam & lainnya di pertengahan, dan ada yang lembut, yang sedih, yang buruk dan baik “[Rujuk kitab Hadith Sahih].

Kini analisis sains yang di buat mendedahkan bahawa tubuh manusia itu terbentuk dari bahagian yang sama dari bumi seperti:-

a) air,

b) karbohidrat,

c) protein,

d) minyak,

e) vitamin,

f) hormon klorin,

g) perak,

h) fosfor,

i) kapur,

j) kalium,

k) natrium,

l) besi,

m) tembaga,

n) iodin dan mineral-mineral yang lain.

Semua mineral ini bersama membentuk pelbagai bahagian tubuh manusia. Mereka umumnya terbentuk di dalam tubuh manusia berdasarkan pembahagian yang tetap, stabil dan tepat. Hanya Allah Maha Pencipta yang mengetahui segala rahsia bagaimana mereka datang bersama-sama dan melakukan tugas seperti itu.

Ditemui bahawa jika mineral yang ada dalam pembentukan tubuh manusia dicerakinkan & dibentuk semula, ia akan memberikan kita benda-benda berikut: sekotak kapur tulis, sekotak mancis api, paku kecil, sedikit garam dan beberapa bahan lain yang tidak bernilai.

Namun, nilai kewangan bagi semua benda-benda tersebut tidak melebihi sepuluh Riyal. Bolehkah dipercayai bahawa nilai kewangan sebahagian besar tubuh manusia tidak melebihi sepuluh Riyal? Ianya juga akan bererti bahawa pakaian manusia atau jam tangannya lebih berharga daripada dirinya sendiri!! Bukankah begitu?

Oleh itu, apakah nilai sebenar seorang Manusia? Nilai universal yang banyak masuk ke dalam proses kejadian manusia tidak dapat disamakan dengan apa-apa pun; Begitujuga nilai sebenar seorang Manusia selepas proses pembentukan tubuh manusia.

Ada sebahagian masyarakat menjadikan manusia umpama sebuah mesin. Untuk menyamakan manusia dengan mesin bererti merendahkan nilai dirinya.

Sebuah benda harus dibandingkan dengan benda lain yang serupa dengannya. Jika tidak, seekor biri-biri atau unta akan lebih berharga dari manusia. Tetapi Islam memberikan status yang tinggi kepada Manusia dan mengangkatnya di atas melebehi ukuran-ukuran materialistik kita.

Buktinya terdapat dalam Al-Qur’an sebagaimana firman Allah SWT: “Dan sungguh telah Kami memuliakan Bani Adam, dan Kami telah menyediakan bagi mereka pengangkutan di daratan dan di lautan;dan Kami telah memberikan mereka rezeki yang baik-baik, dan Kami telah mengutamakan mereka atas kebanyakan dari makhluk yang telah Kami ciptakan dengan keutamaan yang banyak.”[Al-Israa' 17-70].

Di dalam ayat lain Allah berfirman:”Dan sungguh Kami telah menciptakan kamu, lalu Kami membentuk rupa kamu, kemudian Kami berfirman kepada para malaikat:”Sujudlah kamu kepada Adam,”, lalu mereka sujud kecuali iblis,ia (iblis) tidaklah termasuk mereka yang sujud. (Allah) berfirman:”Apakah yang menghalangmu dari bersujud ketika aku memerintahkan kepada kamu?”, Ia (iblis) berkata:”Aku lebih baik darinya(Adam), Engkau telah ciptakan aku dari api dan Engkau telah ciptakan dia (Adam) dari tanah.”[Al-A'raaf 7:11-12] .

Oleh kerana itu, kita harus menghormati manusia, kerana Allah telah menjadikan malaikat untuk sujud kepadanya. Allah telah memberi penghormatan kepada manusia, oleh karena itu kita tidak harus merendahkan/menghina manusia.